Tujuan Aqiqah Dalam Islam Sesuai Sunnah

By:
Categories: Seputar Aqiqah
No Comments

Tujuan aqiqah dalam Islam sesuai sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah untuk merayakan rasa syukur orang tua atas kelahian sang bayi ke dunia. Tasykuran kelahiran bayi ini identik dengan perayaan aqiqah yang biasanya dilaksanakan setelah 7 hari sampai 40 hari kelahiran sang bayi. Terdapat beberapa dalil yang menjelaskan mengenai tujuan aqiqah dalam Islam sesuai sunnah. Pada kesempatan kali ini, kami akan menyampaikan beberapa ulasan mengenai tujuan aqiqah tersebut.

Tujuan Aqiqah

Tujuan Aqiqah

Dalil Aqiqah

Dalil mengenai aqiqah yang paling sering kita dengar berasal dari salah satu hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, berikut ini:

كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّي

Terjemahannya:

“Setiap bayi tergadai dengan aqiqahnya, disembelihkan (kambing) untuknya pada hari ke tujuh, dicukur (rambutnya) dan diberi nama”.

(HR. Abu Dawud no. 2838, Ibnu Majah no. 3165, dan at-Tirmidzi no. 1522. Hadits ini dishahihkan oleh Syeikh al-Albani dan Syeikh Abu Ishaq al-Huwaini dalam kitab al-Insyirah fi Adabin Nikah halaman 97).

 

Hadits tersebut menunjukkan bahwa setiap anak yang lahir ke dunia tergadai dengan aqiqahnya. Sehingga, orang tua muslim sangat dianjurkan untuk melaksanakan aqiqah setelah kelahiran sang bayi. Aqiqah ini dibarengi dengan prosesi mencukur rambut dan memberikan nama yang bagus oleh orang tua kepada sang bayi.

Waktu Aqiqah yang Terbaik

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam salah satu hadits shahih menjelaskan anjuran untuk melaksanakan aqiqah pada hari ke 7 setelah kelahiran anak. Adapun lafadz hadits tersebut adalah sebagai berikut:

عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى

Terjemahannya:

“Dari Samurah bin Jundub, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya, disembelihkan (kambing) untuknya pada hari ketujuh, dicukur (rambutnya), dan diberi nama”

(HR. Abu Dawud no. 2838, Ibnu Majah no. 3165, dan at-Tirmidzi no. 1522).

Dari hadits tersebut, dapat disimpulkan bahwa waktu aqiqah yang paling baik (sunnah aqiqah) adalah pada hari ke – 7.

Namun, terdapat perbedaan pandangan antara beberapa ulama mengenai waktu pelaksanaan aqiqah ini. Ada ulama yang memperbolehkan pelaksanaan aqiqah pada hari ke – 14 ataupun di hari ke – 21 setelah kelahiran, dengan alasan jika orang tua sang bayi tidak bisa melaksanakan aqiqah pada hari ke – 7.

Terdapat sebuah dalil yang menjelaskan perkara ini, dari riwayat Thabrani di dalam kitab “As-Shagir” (1/256) dari Ismail bin Muslim dari Qatadah dari Abdullah bin Buraidah disebutkan bahwa:

“Kurban untuk pelaksanaan aqiqah, dilaksanakan pada hari ketujuh atau hari ke-14 atau hari ke-21.”

Landasan hadits lain yang memperbolehkan pelaksanaan aqiqah selain pada hari ke – 7 adalah sebagai berikut:

نَذَرَتِ امْرَأَةٌ مِنْ آلِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ إِنْ وَلَدَتِ امْرَأَةُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ نَحَرْنَا جَزُورًا، فَقَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: «لَا بَلِ السُّنَّةُ أَفْضَلُ عَنِ الْغُلَامِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ، وَعَنِ الْجَارِيَةِ شَاةٌ تُقْطَعُ جُدُولًا وَلَا يُكْسَرَ لَهَا عَظْمٌ فَيَأْكُلُ وَيُطْعِمُ وَيَتَصَدَّقُ، وَلْيَكُنْ ذَاكَ يَوْمَ السَّابِعِ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فَفِي أَرْبَعَةَ عَشَرَ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فَفِي إِحْدَى وَعِشْرِينَ

Terjemahannya:

“Seorang wanita dari keluarga Abdurrahman bin Abu Bakar bernadzar, apabila istri Abdurrahman melahirkan seorang bayi, maka aku akan menyembelih seekor unta. Mendengar hal itu, Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: ‘Jangan, mengerjakan kesunnahan itu lebih utama, bagi anak laki-laki 2 kambing yang besar, dan bagi perempuan 1 kambing, yang dipotong sepenggal-penggal, dan tulangnya tidak dipecah, kemudian (dagingnya) dimakan dan disedekahkan. Dan itu semua hendaknya dikerjakan pada hari ke tujuh, jika tidak maka dikerjakan pada hari ke empat belas, dan jika tidak, maka dikerjakan pada hari ke dua puluh satu’.”

(Al-Mustadrok no. 7595. Hadits ini dishahihkan oleh Imam adz-Dzahabi dan Imam Hakim).

Meskipun terdapat dalil ataupun hadits yang memperbolehkan waktu pelaksanaan aqiqah selain pada hari ke – 7 setelah kelahiran sang bayi, namun jumhur ulama’ sepakat bahwa waktu aqiqah yang paling afdhol adalah pada hari ke – 7. Wallahu A’lam Bishawab.

Tujuan Aqiqah dalam Islam

Pelaksanaan aqiqah bertujuan untuk beribadah kepada Allah Ta’ala, dan mengharapkan keridhoan Allah Ta’ala serta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sesuai syariat agama Islam. Hal ini merupakan tujuan utama pelaksanaan aqiqah bagi umat muslim. Hal telah dituliskan dalam firman Allah Ta’ala di Al Quran Surat Al-Baqarah ayat 21 – 22 dengan lafadz sebagai berikut ini:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ وَالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

“Yaa ayyuhan-naasu’budụ rabbakumulladzii khalaqakum walladziina ming qablikum la’allakum tattaquun”

Terjemahannya:

“Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.”

الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ الْاَرْضَ فِرَاشًا وَّالسَّمَاۤءَ بِنَاۤءً ۖوَّاَنْزَلَ مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً فَاَخْرَجَ بِهٖ مِنَ الثَّمَرٰتِ رِزْقًا لَّكُمْ ۚ فَلَا تَجْعَلُوْا لِلّٰهِ اَنْدَادًا وَّاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

“Alladzii ja’ala lakumul-arḍa firaasyaw was-samaa.a binaa.aw wa anzala minas-samaa.i maa.an fa akhraja bihii minats-tsamaraati rizqal lakum, fa laa taj’alụ lillaahi andaadaw wa antum ta’lamụn”

Terjemahannya:

“(Dialah) yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dialah yang menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia hasilkan dengan (hujan) itu buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Karena itu janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui.”

Dari beberapa dalil terkait yang ada di atas, kita dapat mengetahui tujuan dari pelaksanaan aqiqah. Memang tidak ada dalil khusus yang membahas tujuan aqiqah secara langsung, akan tetapi kita telah diberikan akal oleh Allah Ta’ala untuk memahaminya.

Pada dasarnya semua ibadah terutama sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, memiliki tujuan.

Hal ini seperti yang tertuang pada firman Allah Ta’ala:

الَّذِیۡنَ یَذۡکُرُوۡنَ اللّٰہَ قِیٰمًا وَّ قُعُوۡدًا وَّ عَلٰی جُنُوۡبِہِمۡ وَ یَتَفَکَّرُوۡنَ فِیۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۚ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ ہٰذَا بَاطِلًا ۚ سُبۡحٰنَکَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Terjemahannya:

“..(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”.

(QS. Ali Imran [3]: 191).

Dapat disimpulkan bahwa semua ibadah untuk mengingat Allah Subhanallahu wa Ta’ala memiliki tujuan di dalamnya, termasuk ibadah aqiqah. Sebagai orang tua,sebaiknya sudah terlebih dahulu menyiapkan biaya aqiqah dan perlengkapan aqiqah lainnya.

Jika Anda menginginkan jasa aqiqah yang praktis dan ekonomis, Anda dapat menggunakan jasa & paket aqiqah dari Aqiqah Tangerang.

Terdapat beberapa tujuan dari pelaksanaan aqiqah bagi orang tua dan anak, diantaranya

Tujuan Aqiqah bagi Orang Tua

Tujuan aqiqah bagi orang tua, disunnahkan bagi orang tua untuk melaksanakan aqiqah pada hari ke – 7 setelah kelahiran anak. Hal ini tak terlepas dari tujuan pelaksanaan aqiqah itu sendiri. Ada beberapa tujuan aqiqah bagi orang tua, di antaranya adalah sebagai berikut:

Menghidupkan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Tujuan ini merupakan tujuan utama dari aqiqah bagi orang tua muslim. Dengan melaksanakan aqiqah, artinya mereka juga telah menghidupkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Harapannya, pahala akan mengalir kepada orang tua sang bayi.

Adapun hadits yang menganjurkan untuk menghidupkan sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebagai berikut:

مَنْ أَحْيَا سُنَّةً مِنْ سُنَّتِى فَعَمِلَ بِهَا النَّاسُ كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا لاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا

Terjemahannya:

“Barangsiapa yang menghidupkan satu sunnah dari sunnah-sunnahku, kemudian diamalkan oleh manusia, maka dia akan mendapatkan (pahala) seperti pahala orang-orang yang mengamalkannya, dengan tidak mengurangi pahala mereka sedikit pun”.

(HR. Ibnu Majah no. 209. Sanad pada hadits ini terdapat kelemahan namun juga dikuatkan oleh riwayat lainnya. Oleh karena itu, hadits ini dishahihkan oleh syeikh al-Albani).

‘Membayar’ Tergadainya Anak yang Lahir

Pada saat seorang bayi lahir ke dunia, ia tergadai dengan aqiqahnya. Maka orang tua dianjurkan untuk melepaskan tergadainya sang bayi dengan melaksanakan aqiqah tersebut.

Berikut ini penjelasan mengenai tergadainya bayi yang lahir:

مرهون بعقيقته يعني أنه محبوس سلامته عن الآفات بها أو أنه كالشيء المرهون لا يتم الاستمتاع به دون أن يقابل بها لأنه نعمة من الله على والديه فلا بد لهما من الشكر عليه

Terjemahannya:

“Tergadaikan dengan aqiqahnya, artinya jaminan keselamatan untuknya dari segala bahaya, tertahan dengan aqiqahnya. Atau si anak seperti sesuatu yang tergadai, tidak bisa dinikmati secara sempurna, tanpa ditebus dengan aqiqah. Karena anak merupakan nikmat Allah bagi orang tuanya, sehingga keduanya harus bersyukur.

(Mirqah al-Mafatih, 12/412).

Menjalin Hubungan Ukhuwah Islamiyah terhadap Sesama Manusia

Tujuan lain dari pelaksanaan aqiqah bagi orang tua adalah untuk menjalin hubungan antar manusia. Pada saat melaksanakan shohibul aqiqah, umumnya orang tua akan mengundang muslim lain untuk merayakannya. Dengan demikian, maka hubungan antar muslim ataupun antar manusia dapat terjalin dengan baik.

Tujuan Aqiqah bagi Anak

Adapun tujuan aqiqah bagi anak adalah sebagai berikut:

Menghilangkan Penyakit

Pertama, aqiqah bertujuan untuk menghilangkan penyakit. Prosesi cukur rambut merupakan salah satu kiasan atau perumpamaan supaya bayi dijauhkan dari segala jenis penyakit dengan aqiqahnya. Melalui kiasan ini, diharapkan penyakit – penyakit ada pada sang bayi dapat hilang atau terbuang bersama dengan rambut yang dicukur tersebut.

Anak Mendapatkan Nama yang Bagus

Tujuan yang selanjutnya, yaitu sang bayi mendapatkan nama yang bagus dari orang tuanya. Seperti pada suatu riwayat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjelaskan keutamaan memberikan nama yang baik bagi seorang anak. Sebab hal ini merupakan bagian dari beberapa hak anak atas orang tuanya. Beberapa ulama menjelaskan bahwa ada anjuran untuk memberikan nama anak dengan nama salah seorang nabi, Asma’ul Husna, nama Nabi dan Rasul, nama-nama orang sholih, dan nama-nama istri Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk bayi perempuan.

Selain itu juga ada anjuran untuk menamai seorang anak dengan nama Abdullah atau Abdurrahman, hal ini didasari dari sebuah hadits berikut:

إِنَّ أَحَبَّ أَسمَائِكُمْ إِلَى اللَّهِ عَبدُاللَّهِ وَ عَبدُ الرَّحْمَنِ

Terjemahannya:

“Sesungguhnya nama yang paling dicintai Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman”.

(HR. Muslim no. 2132).

Dijelaskan pula bahwa ada sekitar 300 sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menggunakan nama Abdullah.

Setidaknya itulah beberapa tujuan aqiqah baik untuk orang tua ataupun anak. Dengan kata lain, meskipun tidak ada dalil terkait tujuan aqiqah, namun sebagai seorang muslim kita harus mampu menangkap bahwa setiap ibadah kepada Allah Subhanallahu wa Ta’ala memiliki hikmah dan tujuan.

Anak Mendapatkan Doa yang Baik oleh Muslim

Pada saat melaksanakan aqiqah, biasanya akan disertai dengan pembacaan ayat suci Al – Qur’an dan doa – doa untuk bayi yang diaqiqahi. Dengan adanya pembacaan ayat suci Al – Qur’an dan do’a – do’a tersebut, insyaallah akan sangat berguna bagi kesehatan fisik maupun mental bayi yang diaqiqahi tersebut.

Rekomendasi Paket Aqiqah Tangerang

Jika Anda berkeinginan untuk mengaqiqahkan putra putri Anda secara ekonomis, praktis dan syar’i Anda dapat menggunakan jasa Aqiqah Tangerang.

Kami menerima pemesanan untuk acara aqiqah Anda dengan berbagai paket pilihan. Untuk pemesanan dan informasi harga, silakan hubungi customer service kami di:

CS Aqiqah Tangerang:  081380087643

 

Your Thoughts