Tata Cara Aqiqah Anak & Dewasa: Aqiqah Sesuai Sunnah

By:
Categories: Seputar Aqiqah
No Comments

Tata cara aqiqah anak & dewasa di dalam Islam terdapat beberapa langkah. Perlu diketahui bahwa hukum dalam pelaksanaan aqiqah di dalam Islam adalah sunnah mu’akad (menurut jumhur ulama). 

Ada beberapa tata cara aqiqah anak dan dewasa yang dapat diikuti sebelum menunaikan ibadah ini.

Beberapa hal yang diperhatikan di dalam tata caa tersebut meliputi: persiapan biaya untuk aqiqah, membeli kambing untuk aqiqah sesuai syariat, penyembelihan kambing untuk aqiqah, doa aqiqah hingga dengan pembagian daging kambing aqiqah itu sendiri.

Untuk memahami beberapa hal di atas, kami akan mengulasnya dengan lengkap pada bahasan kali ini.

Baca juga artikel kami tentang Jasa Aqiqah Tangerang Selatan

Tentang Aqiqah

Aqiqah menurut Bahasa

Jika dilihat dari asal bahasa, aqiqah berasal dari bahasa Arab  yaitu kata “عَقُّ” yang artinya memotong. Dari segi bahasa kata tersebut merujuk pada makna. Makna pertama, merujuk pada artian memotong rambut bayi yang baru lahir. Sedangkan makna kedua berarti memotong atau melakukan penyembelihan hewan qurban.

Aqiqah menurut Istilah

Jika dilihat dari istilah, aqiqah diartikan sebagai penyembelihan / pengurbanan hewan untuk kelahiran bayi sebagai wujud dari rasa syukur kepada Allah Ta’ala sesuai dengan syariat yang telah ditentukan oleh agama Islam. Hal ini sesuai dengan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut:

كُلُّ غُلَامٍ مُرْتَهَنٌ بِعَقِيقَتِهِ، تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ السَّابِعِ، وَيُحْلَقُ رَأْسُهُ وَيُسَمَّى

Terjemahannya:

“Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya yang disembelih pada hari ketujuh, dicukur (rambutnya), dan diberi nama”

(HR. Tirmidzi no. 2735, Abu Dawud no. 2527, Ibnu Majah no. 3165)

Hadits tersebut dishahihkan oleh syeikh imam Al – Albani di dalam kitab al – Irwa’ no. 1165.

Hikmah Aqiqah

Sebagai salah satu ibadah sunnah, aqiqah juga memiliki beberapa hikmah yang terkandung di dalamnya. Seperti halnya ibadah lainnya, dengan menunaikan ibadah aqiqah ini maka shohibul aqiqah sama saja sedang berupaya untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala (taqarrub).

Di sisi lain, shohibul aqiqah juga sedang menunjukkan i’tikad baiknya untuk menegakkan ajaran sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam kehidupannya. Hal ini dapat dijadikan sebagai wujud praktik atas kecintaan kita kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dengan menunaikan ibadah aqiqah ini, kita mengharapkan untuk memperoleh ridho dari Allah Ta’ala. Selain itu, ibadah aqiqah ini dapat memberikan banyak hikmah kepada shohibul aqiqah, anak yang diaqiqahi hingga masyarakat sekitarnya pun akan memperoleh hikmah atasnya.

Baca juga artikel lengkap kami tentang Hikmah Aqiqah sesuai Sunnah.

Waktu Pelaksanaan Aqiqah

Terdapat beberapa pendapat mengenai anjuran waktu pelaksanaan aqiqah, adapun waktu yang dianjurkan tersebut adalah sebagai berikut

Hari ke – 7

Melaksanakan aqiqah pada hari ke – 7 setelah kelahiran adalah waktu pelaksanaan yang paling dianjurkan oleh Islam. Jumhur ulama menjelaskan bahwa waktu ini adalah waktu yang disunnahkan. Hal ini ditegaskan dengan adanya hadits Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam berikut ini:

عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى

Terjemahannya:

”Dari Samurah bin Jundub, Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda: ‘setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuh, digundul (rambutnya), dan diberi nama.”

(HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, An-Nasai, dan Ahmad)

Hadits tersebut merupakan hadits shahih yang menegaskan tentang waktu pelaksanaan aqiqah yang paling baik. Sehingga, sangat dianjurkan bagi orang yang mampu melaksanakan aqiqah pada hari ke – 7 untuk melaksanakan pada hari tersebut.

Cara Menghitung Hari ke – 7

Sebagai waktu yang disunnahkan untuk menunaikan aqiqah, tentu akan ditemui lagi bahasan lebih lanjut lagi yaitu cara menghitung hari ke – 7 setelah kelahiran anak.

Di dalam kitab Al – Mawsu’ah Al – Fiqhiyah dijelaskan bahasan mengenai cara menghitung hari ke – 7 untuk pelaksanaan aqiqah. Adapun kutipannya adalah sebagai berikut:

وذهب جمهور الفقهاء إلى أنّ يوم الولادة يحسب من السّبعة ، ولا تحسب اللّيلة إن ولد ليلاً ، بل يحسب اليوم الّذي يليها

Terjemahannya:

“Mayoritas ulama’ fiqih berpandangan bahwa waktu siang pada hari kelahiran adalah awal hitungan tujuh hari. Sedangkan pada waktu malam (jika bayi dilahirkan), tidaklah jadi hitungan, namun yang jadi hitungan adalah hari berikutnya.”

Contoh cara menghitungnya, misal sang bayi lahir pada hari Jum’at (09/12) pada pukul 8 pagi, maka hari tersebut dihitung sebagai hari pertama kelahirannya. Sehingga, aqiqah bayi tersebut dapat dilaksanakan pada hari Kamis (15/12). Jika, sang bayi lahir pada hari Jum’at (09/12) jam 7 malam, maka hari pertama kelahirannya adalah hari Sabtu (10/12). Sehingga aqiqah bayi tersebut jatuh tepat pada hari Jum’at (17/12). 

Melaksanakan Aqiqah Setelah Hari ke – 7

Mayoritas ulama berpendapat bahwa aqiqah disunnahkan untuk dilaksanakan pada hari ke – 7. Mayoritas ulama yang berpendapat bahwa disunnahkan untuk melaksanakan aqiqah pada hari ke – 7 merupakan ulama  penganut madzhab Syafi’i memperbolehkan aqiqah meskipun melewati hari ke – 7.

Akan tetapi ada ulama yang menyatakan bahwa aqiqah dapat ditunaikan setelah melewati hari ketujuh kelahiran bayi. Dengan ketentuan, aqiqah tersebut dilakukan sebelum anak menginjak usia baligh. Alasan dasarnya, adaah karena aqiqah setelah hari ke- 7 sifatnya qodho’. Karena, sifatnya qodho’ maka dapat dilaksanakan secepatnya ketika seorang muslim telah mampu menunaikannya.

Pernyataan tersebut didasari atas hadits berikut ini:

نَذَرَتِ امْرَأَةٌ مِنْ آلِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ إِنْ وَلَدَتِ امْرَأَةُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ نَحَرْنَا جَزُورًا، فَقَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: «لَا بَلِ السُّنَّةُ أَفْضَلُ عَنِ الْغُلَامِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ، وَعَنِ الْجَارِيَةِ شَاةٌ تُقْطَعُ جُدُولًا وَلَا يُكْسَرَ لَهَا عَظْمٌ فَيَأْكُلُ وَيُطْعِمُ وَيَتَصَدَّقُ، وَلْيَكُنْ ذَاكَ يَوْمَ السَّابِعِ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فَفِي أَرْبَعَةَ عَشَرَ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فَفِي إِحْدَى وَعِشْرِينَ

Terjemahannya:

“Seorang wanita dari keluarga Abdurrahman bin Abu Bakar bernadzar, jika istri Abdurrahman melahirkan bayi, maka aku akan menyembelih unta. Mendengar hal tersebut, Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: ‘Jangan, mengerjakan kesunnahan itu lebih utama, untuk anak laki-laki 2 ekor kambing besar dan untuk anak perempuan 1 ekor kambing yang dipotong sepenggal-penggal, dan tulangnya tidak dipecah, kemudian dagingnya dimakan dan disedekahkan. Dan semua itu hendaknya dilakukan di hari ke-7. Jika tidak, maka dikerjakan pada hari ke-14, dan jika tidak, maka dikerjakan di hari ke-21.”

(Al-Mustadrok no. 7595. Hadits ini dishahihkan oleh Imam Adz Dzahabi dan Imam Hakim)

Sehingga dari penjelasan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa diperbolehkan untuk melaksanakan aqiqah setelah hari ke – 7 kelahiran anak jika orang tua memang tidak dapat menunaikan di waktu tersebut. Akan tetapi dibatasi waktu yaitu sebelum anak tersebut masuk usia baligh.

Tata Cara Aqiqah Menurut Syariat Islam

Di dalam pelaksanaan aqiqah terdapat beberapa tata cara yang dianjurkan untuk dikerjakan. Berikut ini adalah beberapa tata cara aqiqah yang dianjurkan sesuai sunnah:

Menyembelih Kambing Aqiqah

Pada bahasan sebelumnya telah dijelaskan bahwa hal yang disunnahkan ialah menyembelih hewan kambing. Kambing merupakan jenis hewan yang disunnahkan untuk disembelih pada saat menyelenggarakan aqiqah.

Sedangkan untuk jumlah kambing yang disembelih untuk aqiqah adalah 2 ekor kambing untuk anak laki-laki dan 1 ekor kambing untuk anak perempuan.

عن أم كرز قالت سمعت النبي صلى الله عليه وسلم يقول : عن الغلام شاتان وعن الجارية شاة لا يضركم أذكرانا كن أم إناثا

Terjemahannya:

“Dari Ummu Kurz ia berkata: aku mendengar Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda: ‘Untuk seorang anak laki-laki adalah dua ekor kambing dan untuk akan perempuan adalah seekor kambing. Tidak mengapa bagi kalian apakah ia kambing jantan atau betina.’”

(HR. Abu Dawud no. 2834 – 2835)

Pada saat menunaikan aqiqah, ashobul aqiqah perlu memperhatikan kualitas hewan sembelihan tersebut. Hal ini serupa dengan ketentuan yang dianjurkan pada saat memilih hewan untuk kurban. paling tidak, hewan untuk aqiqah harus memenuhi syarat.

Berdasarkan jumhur ulama menyatakan bahwa syarat hewan yang digunakan untuk aqiqah hampir sama dengan hewan yang digunakan untuk qurban. Syarat tersebut dilihat dari segi jenis, umur, hingga harusnya terbebas dari cacat dan penyakit. Pendapat ini didasari dari hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu mengenai perkara tersebut. Adapun lafadz haditsnya adalah sebagai berikut:

لَا تَذْبَحُوا إِلَّا مُسِنَّةً, إِلَّا أَنْ يَعْسُرَ عَلَيْكُمْ فَتَذْبَحُوا جَذَعَةً مِنَ اَلضَّأْنِ

Terjemahannya:

“Jangan kalian menyembelih kecuali musinnah. Kecuali jika kalian merasa sulit, maka sembelihlah jadza’ah dari domba.”

(HR. Muslim no.1963)

Di dalam hadits tersebut disebutkankata mussinah, artinya hewan hewan yang akan disembelih tersebut memiliki umur yang sudah mencukupi. Jika hewan tersebut adalah kambing, maka usia minimalnya adalah 1 tahun, sapi 2 tahun, dan unta 5 tahun. Sedangkan, makna kata jadza’ah di dalam hadits tersebut adalah berusia  minimal 6 bulan hingga 12 bulan / 1 tahun.

Baca juga artikel lengkap kami mengenai  Hukum Hewan Aqiqah selain Kambing Menurut Ulama Islam.

Mencukur Rambut dan Memberi Nama Bayi

Tata Cara Aqiqah

Tata Cara Aqiqah

Umumnya, pada saat menunaikan ibadah aqiqah diiringi dengan prosesi mencukur rambut bayi dan kemudian memberikan nama yang bagus untuk sang bayi. Dua prosesi tersebut termasuk di dalam tata cara aqiqah yang sesuai dengan anjuran agama Islam.

Akan tetapi para ulama masih memiliki perbedaan pendapat tentang perlu atau tidaknya prosesi mencukur rambut sang bayi. Berdasarkan jumhur para ulama, dianjurkan untuk mencukur rambut bayi.

Alasannya, karena prosesi tersebut merupakan sunnah aqiqah yang sesuai dengan hadits Rasulullah shallallu ‘alaihi wa sallam. Artinya ibadah aqiqah, jika dilakukan maka akan mendapatkan pahala sedangkan jika ditinggalkan orang tersebut tidak akan mendapatkan dosa. Adapun dalil yang menjelaskan hal ini adalah sebagai berikut:

كُلُّ غُلَامٍ مُرْتَهَنٌ بِعَقِيقَتِهِ، تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ السَّابِعِ، وَيُحْلَقُ رَأْسُهُ وَيُسَمَّى

Terjemahannya:

“Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya yang disembelih pada hari ketujuh, dicukur (rambutnya), dan diberi nama.”

(HR. Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah)

Seusai melaksanakan aqiqah tersebut, maka dianjurkan untuk memberikan nama – nama yang baik untuk sang bayi. Hal ini sesuai dengan salahs atu hadits  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini:

إِنَّ أَحَبَّ أَسمَائِكُمْ إِلَى اللَّهِ عَبدُاللَّهِ وَ عَبدُ الرَّحْمَنِ

Terjemahannya:

“Sesungguhnya nama yang paling dicintai Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman,”

(HR. Muslim no 2132)

Berdasarkan hadtis di atas, disebutkan adanya dua nama yang dicintai oleh Allah Ta’ala yakni Abdullah dan Abdurrahman bagi anak laki-laki. Nama lainnya yang juga dianjurkan untuk diberikankepada anak yang baru lahir ialah nama yang berasal dari asma’ul husna, sahabat Rasul, dan ummul mu’minin untuk anak perempuan.

Memasak Daging Aqiqah

Selanjutnya adalah memasak daging hewan aqiqah. Para ulama masih memiliki perbedaan pendapat tentang daging aqiqah yang harus dimasak terlebih dahulu atau tidak sebelum dibagikan.

Adapun dasar yang digunakan sebagai pedoman mengenai cara mengolah daging aqiqah adalah sebagai berikut:

ويستحب الا يتصدق بلحمها نيئا بل يطبخه ويبعث الى الفقراء بالصحاف

Terjemahannya:

“Dianjurkan untuk tidak membagikan daging hewan aqiqah dalam keadaan mentah, akan tetapi dimasak terlebih dahulu kemudian diantarkan kepada orang fakir dengan nampan.”

(Imam Al-Baghawi dalam kitab Atahzib)

واستحب كثير من اهل العلم ان لا يتصدق نيئا بل يطبخ ويتصدق به على الفقراء بارساله لهم

Terjemahannya:

“Kebanyakan ahlul ilmi mengajurkan agar daging hewan aqiqah tidak dibagikan dalam keadaan mentah, namun dimasak terlebih dahulu kemudian disedekahkan pada orang fakir.”

(kitab Al-Musfashshal fi Ahkamil Aqiqah)

Sesuai dengan pendapat di atas, maka tata cara aqiqah sesuai sunnah adalah dengan memasak daging aqiqah terlebih dahulu sebelum membagikannya. Pendapat tersebut  tentu didasari atas tujuan tertentu.

Jika dilihat dari niatnya, aqiqah ditujukan untuk merayakan kelahiran bayi sebagai salah satu wujud syukur orang tua kepada Allah Ta’ala. Dengan memasak daging aqiqah terlebih dulu sebelum dibagikan ini, ashobul aqiqah juga sedang mempermudah orang yang diberikan. Sebab, orang tersebut tidak perlu mengeluarkan biaya untuk mengolah daging aqiqah.

Tata Cara Pembagian Daging Aqiqah

Pada saat membagikan daging aqiqah, shohibul aqiqah perlu memperhatikan tata cara membagikan daging aqiqah sesuai syariat. Pada dasarnya, tata cara yang digunakan untuk membagikan daging aqiqah sama dengan tata cara yang digunakan pada saat membagikan daging kurban.

Adapun tata caranya adalah sebagian daging aqiqah tersebut diperuntukkan bagi ahlul bait (muslim yang menunaikan aqiqah) kemudian sisa daging aqiqah tersebut dapat dibagikan kepada tetangga ataupun fakir miskin.

Pendapat Syeikh Ibnu Bazz

Berdasarkan pendapat Syaikh Ibnu Bazz, terdapat anjuran untuk mensedekahkan sebagian daging aqiqah tersebut dan kemudian mengundang orang lain untuk menyantap sebagian lagi. Berikut ini adalah penjelasan yang diberikan oleh Syeikh Ibnu Bazz:

“Dan engkau bebas memilih antara mensedekahkan seluruhnya (dagingnya) atau sebagiannya dan memasaknya kemudian mengundang orang yang engkau lihat pantas diundang dari kalangan kerabat, tetangga, teman-teman seiman dan sebagian orang faqir untuk menyantapnya. Dan hal serupa dikatakan oleh ulama-ulama yang terhimpun di dalam Al-Lajnah Ad-Daimah”

Pendapat Syeikh Jibrin

Sedangkan pendapat lain yaitu menurut Syeikh Jibrin menjelaskan tentang takaran pembagiannya adalah sebagai berikut:

“Sunnahnya adalah memakan sepertiganya, menghadiahkan sepertiganya pada sahabat-sahabatnya, dan mensedekahkan sepertinya kepada kaum muslimin. Boleh mengundang teman dan kerabat untuk menyantapnya, atau boleh juga ia (ahlul bait) mensedekahkan semuanya”

Berdasarkan penjelasan tersebut, maka daging aqiqah yang telah dimasak dapat dinikmati oleh ahlul bait untuk kemudian disedekahkan kepada tetangga ataupun orang yang yang dirasa membutuhkan.

Tata Cara Aqiqah

Tata Cara Aqiqah

Selain itu, diperbolehkan juga untuk menyedekahkan semua daging aqiqah kepada orang yang dirasa pantas untuk mendapatkan.

Melalui bahasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa tata cara aqiqah sesuai syarait Islam yang paling utama adalah dengan menyembelih hewan, mencukur rambut, memberikan nama yang baik untuk anak, kemudian menyantap / menyedekahkan daging aqiqah kepada orang yang membutuhkan.

REKOMENDASI PAKET AQIQAH TANGERANG

Jika Anda berkeinginan untuk mengaqiqahkan putra putri Anda secara ekonomis, praktis dan syar’i Anda dapat menggunakan jasa Aqiqah Tangerang.

Kami menerima pemesanan untuk acara aqiqah Anda dengan berbagai paket pilihan. Untuk pemesanan dan informasi harga, silakan hubungi customer service kami di:

CS Aqiqah Tangerang:  081380087643

 

 

Pengunjung Juga Mencari:

Your Thoughts