Sejarah Singkat Aqiqah dalam Islam – Zaman Jahiliyah & Zaman Rasulullah

By:
Categories: Seputar Aqiqah
No Comments

Sebenarnya, aqiqah sudah ada sejak zaman Islam belum datang atau zaman jahiliyah. Tradisi menyembelih hewan dan mencukur rambut bayi setelah kelahirannya, sudah ada pada masyarakat jazirah Arab.

Sehingga dapat dikatakan tradisi ini sudah ada sejak lama, hanya saja dalam praktiknya belum sesuai dengan syariat agama Islam yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Overview Sejarah Aqiqah

Pertama kali aqiqah diajarkanoleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat kelahiran kedua cucunya, yaitu Hasan dan Husain. Selepas kelahiran Hasan dan Husain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian melaksanakan aqiqah.

Praktik aqiqah yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada saat itu kemudian diteladani oleh umat muslim hingga saat ini.

Pada penjelasan awal, telah dijelaskan bahwa masyarakat Arab jahiliyah sejak lama telah memiliki tradisi melaksanakan aqiqah untuk menyambut kelahiran anaknya. Kemudian, Islam datang untuk menyempurnakan praktik aqiqah yang dilakukan oleh masyarakat Arab jahiliyah.

Sejarah Aqiqah Zaman Jahiliyah

Pelaksanaan aqiqah, sebenarnya sudah ada sejak zaman jahiliyah. Pada saat itu, masyarakat Arab jahiliyah pada menyembelih hewan kemudian melakukan ritual khusus guna menyambut kelahiran seorang anak.

Ritual ini sudah menjadi kebiasaan, khususnya jika anak yang lahir adalah anak laki-laki. Hewan yang biasa disembelih untuk ritual adalah kambing.

Tradisi pada saat menyembelih kambing untuk merayakan kelahiran anak adalah dengan melumuri kepala bayi dengan darah kambing yang disembelih tersebut.

Terdapat beberapa hadits yang menerangkan tentang pelaksanaan aqiqah pada zaman jahiliyah ini, diantaranya adalah sebagai berikut:

Hadits Riwayat Ibnu Hibban

Hadits yang pertama yaitu dari salah satu hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban berikut ini:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: كَانُوْا فِى اْلجَاهِلِيَّةِ اِذَا عَقُّوْا عَنِ الصَّبِيّ خَضَبُوْا قُطْنَةً بِدَمِ اْلعَقِيْقَةِ. فَاِذَا حَلَقُوْا رَأْسَ الصَّبِيّ وَضَعُوْهَا عَلَى رَأْسِهِ، فَقَالَ النَّبِيُّ ص: اِجْعَلُوْا مَكَانَ الدَّمِ خَلُوْقًا

Terjemahannya:

“Dari ‘Aisyah, ia berkata,”Dahulu orang-orang pada masa jahiliyah apabila mereka berakikah untuk seorang bayi, mereka melumuri kapas dengan darah akikah, lalu ketika mencukur rambut si bayi mereka melumurkan pada kepalanya. Maka Nabi SAW bersabda,”Gantilah darah itu dengan minyak wangi

[HR. Ibnu Hibban juz 12, hal. 124, no. 5308]

Hadits Riwayat Abu Dawud

Hadits lain yang menjelaskan tentang pelaksanaan aqiqah zaman jahiliyah adalah hadits riwayat Abu Dawud berikut ini:

كُنَّا فِى اْلجَاهِلِيَّةِ اِذَا وُلِدَ ِلاَحَدِنَا غُلاَمٌ ذَبَحَ شَاةً وَ لَطَخَ رَأْسَهُ بِدَمِهَا، فَلَمَّا جَاءَ اللهُ بِاْلاِسْلاَمِ كُنَّا نَذْبَحُ شَاةً وَ نَحْلِقُ رَأْسَهُ وَ نَلْطَخُهُ بزَعْفَرَانٍ

Terjemahannya:

“Dahulu kami di masa jahiliyah apabila salah seorang diantara kami mempunyai anak, ia menyembelih kambing itu. Maka, setelah Allah mendatangkan Islam, kami menyembelih kambing, mencukur (menggundul) kepala si bayi, dan melumurinya dengan minyak wangi.”

(HR. Abu Dawud juz 3, hal. 107, no. 2843dari Buraidah)

Dari dua dalil yang ada tersebut, sudah dapat dilihat bahwa pada dasarnya Islam datang untuk meluruskan tradisi masyarakat jarizah Arab.

Islam dikatakan meluruskan atau menyempurnakan, sebab Islam tidak serta merta menghapuskan tradisi yang sudah ada tersebut.

Hal ini tentu sesuai dengan prinsip ajaran Islam yang mengajarkan agama dengan kasih sayang dan membimbing masyarakat ke arah perbaikan yang lebih baik.

Sejarah Aqiqah Zaman Rasulullah

Pelaksanaan aqiqah pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dimulai pada saat kelahiran cucu kembar baginda Rasul, yaitu Hasan dan Husain.

Peristiwa bersejarah ini dijelaskan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Ibnu Abbas radhiyallahu `anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan aqiqah untuk kedua cucunya tersebut.

Pada saat melaksanakan aqiqah untuk cucunya,  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyiapkan satu ekor kambing untuk masing – masing cucunya tersebut. Kambing tersebut disiapkan untuk kemudian disembelih.

Adapun beberapa hadits yang menjadi sumber mengenai sejarah aqiqah zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sebagai berikut:

Hadits Riwayat Abu Dawud

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَقَّ عَنِ الْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ كَبْشًا كَبْشًا

Terjemahannya:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengakikahi Al Hasan dan Al Husain, masing-masing satu ekor gibas (domba)

(HR. Abu Dawud no. 2841).

Hadits Riwayat An Nasai

Riwayat lain mengenai pelaksanaan aqiqah pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga dijelaskan dalam hadits riwayat An Nasai lafadznya adalah:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ عَقَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا بِكَبْشَيْنِ كَبْشَيْنِ

Terjemahannya:

“Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengakikahi Al Hasan dan Al Husain, masing-masing dua ekor gibas (domba).'”

(HR. An Nasai no. 4219)

Jumlah Kambing Aqiqah

Jumlah kambing aqiqah yang disembelih untuk anak laki-laki adalah dua ekor dan jumlah kambing aqiqah untuk anak perempuan adalah satu ekor. Hal ini sudah dianjurkan di dalam syariat Islam dan shahih

Pelaksanaan aqiqah yang telah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut kemudian diteladani oleh para sahabat, tabiin, dan tabiit tabiin (generasi setelah tabiin). Pelaksanaan aqiqah tersebut kemudian menjadi sebuah teladan yang dilakukan oleh umat Islam hingga saat ini.

Dasar Hukum Aqiqah sesuai Dalil Shahih

Terdapat perbedaan pemahaman mengenai dasar hukum aqiqah, hal ini didasari adanya pendapat yang berbeda dari para ahli ulama. Ada mazhab yang mewajibkan pelaksanaan aqiqah, pemahaman ini datang dari mazhab zhahiriyah.

Kemudian ada pula menyatakan bahwa pelaksanaan aqiqah adalah sunnah muakkad atau sunnah yang mendekati wajib, hal ini didasarkan pada  sebagian besar jumhur ulama.

Adapun beberapa hadits yang menjadi dasar penentuan hukum pelaksanaan aqiqah ini adalah sebagai berikut:

Hadits Riwayat Bukhari

عَنْ سَلْمَانَ بْنِ عَامِرٍ الضَّبِيّ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص يَقُوْلُ: مَعَ اْلغُلاَمِ عَقِيْقَةٌ فَاَهْرِيْقُوْا عَنْهُ دَمًا وَ اَمِيْطُوْا عَنْهُ اْلاَذَى

Terjemahannya:

“Dari Salman bin ‘Amir Adl-Dlabiy, ia berkata : Saya mendengar RasulullahSAW bersabda, ‘Tiap-tiap anak itu ada ‘aqiqahnya. Maka sembelihlah binatang ‘aqiqah untuknya dan buanglah kotoran darinya (cukurlah rambutnya)’.”

(HR. Bukhari juz 6, hal. 217)

Hadits Riwayat Ahmad

عَنْ سَمُرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كُلُّ غُلَامٍ مُرْتَهَنٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ السَّابِعِ وَيُحْلَقُ رَأْسُهُ وَيُسَمَّى (رواه أحمد وصححه الترمذي)

Terjemahannya:

“Dari Samurah r.a., nabi s.a.w. bersabda: ‘Setiap anak digadaikan dengan aqiqahnya, yang disembelih untuknya pada hari ke 7 kelahirannya, dan dicukur rambutnya dan diberi nama’ HR. Ahmad, dan dianggap shahih oleh at-Tirmidzi.”

Hadits Riwayat Hakim

عَنْ عَائِشَةَ رض قَالَتْ: عَقَّ رَسُوْلُ اللهِ ص عَنِ اْلحَسَنِ وَ اْلحُسَيْنِ يَوْمَ السَّابِعِ وَ سَمَّاهُمَا وَ اَمَرَ اَنْ يُمَاطَ عَنْ رُؤُوْسِهِمَا اْلاَذَى

Terjemahannya:

“Dari ‘Aisyah RA, ia berkata, ‘Rasulullah SAW pernah ber’aqiqah untuk Hasan dan Husain pada hari ke-7 dari kelahirannya, beliau memberi namadan memerintahkan supaya dihilangkan kotoran dari kepalanya (dicukur)’.”

(HR. Hakim, dalam Al-Mustadrak juz 4, hal. 264, no. 7588)

Hadits Riwayat Tirmidzi

عَنْ يُوْسُفَ بْنِ مَاهَكٍ اَنَّهُمْ دَخَلُوْا عَلَى حَفْصَةَ بِنْتِ عَبْدِ الرَّحْمنِ فَسَأَلُوْهَا عَنِ اْلعَقِيْقَةِ، فَاَخْبَرَتْهُمْ اَنَّ عَائِشَةَ اَخْبَرَتْهَا اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص اَمَرَهُمْ عَنِ اْلغُلاَمِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ وَ عَنِ اْلجَارِيَةِ شَاةٌ

Terjemahannya:

“Dari Yusuf bin Mahak bahwasanya orang-orang datang kepada Hafshah binti ‘Abdur Rahman, mereka menanyakan kepadanya tentang ‘aqiqah. Maka Hafshah memberitahukan kepada mereka bahwasanya ‘Aisyah memberitahu kepadanya bahwa Rasulullah SAW telah memerintahkan para shahabat (agar menyembelih ‘aqiqah) bagi anak laki-laki 2 ekor kambing yang sebanding dan untuk anak perempuan 1 ekor kambing.”

(HR. Tirmidzi juz 3, hal. 35, no. 1549)

Hukum Aqiqah

Terdapat perbedaan pandangan dari ulama mengenai hukum aqiqah ini. Untuk itu, kami akan memaparkan penjelasannya berikut ini:

Aqiqah itu Wajib

Mazhab Zhahiriyah berpendapat bahwa melaksanakan aqiqah untuk anak yang telah lahir ke dunia hukumnya adalah wajib. Hal ini didasari oleh nukilan hadits yang ada merujuk pada kata – kata perintah, sehingga mazhab Zhahiriyah memandang bahwa aqiqah merupakan sebuah ibadah wajib. Setiap kata perintah yang ada di dalam nash menunjukkan hukum wajib terhadap suatu hal yang diperintahkan. Semasa tidak ada nash lain yang menyatakan bahwa hal yang perintah melaksanakan aqiqah tidak wajib, maka aqiqah tetap dikenakan hukum wajib.

Aqiqah itu Sunnah

Sebagian besar ulama (jumhur ulama) sepakat bahwa hukum pelaksanaan aqiqah adalah sunnahMazhab yang menyunnahkan ibadah aqiqah sesuai jumhur ulama adalah mazhab Syafi’iyyah, mazhab Malikiyah, dan sebagian besar Mazhab Hanabilah.

Kesepakatan ini didasari pada nukilan kalimat perintah dalam hadits – hadits yang ada tidak menunjukkan hukum wajib, tapi menunjukkan hukum sunnah.

Aqiqah itu Makruh

Mazhab Hanafiyah berpendapat bahwa aqiqah hukumnya adalah makruh, hal ini didasari oleh sejarah awal pelaksanaan aqiqah yang sebenarnya merupakan tradisi jahiliyah. Tradisi jahiliyah tersebut kemudian diteruskan ketika datang Islam namun kemudian dihapus dengan syariah kurban (udhhiyah).

Aqiqah itu tidak Wajib dan tidak Sunnah

Terdapat pendapat lain yang datang dari para ahli fiqih (fuqaha). Pendapat ini datang dari pengikut Abu Hanifah (Imam Hanafi). Imam Hanafi menyatakan bahwa hukum aqiqah adalah tidak wajib dan juga tidak sunnah, namun termasuk ibadah tathawwu’ (ibadah suka rela).

Pernyataan ini didasari oleh hadist Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berikut ini:

Aku tidak suka sembelih-sembelihan (aqiqah). Akan tetapi barang siapa dianugerahi seorang anak, laku dia hendak menyembelih hewan untuk anaknya itu, dia dipersilahkan melakukannya.”

(HR Baihaki)

Simpulan Hukum Aqiqah

Untuk menyimpulkan mengenai hukum aqiqah ini, maka kita perlu mencermati kesepakatan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Majelis Ulama Indonesia (MUI) sepakat bahwa hukum aqiqah di dalam Islam adalah sunnah.

Berdasarkan kesepakatan Majelis Ulama Indonesia (MUI), dalil dan argumentasi (hujjah) yang menyebutkan bahwa aqiqah itu sunnah lebih kuat (shahih).

Hadits yang dipergunakan oleh mazhab Hanafiyah sebagai dasar hukum adalah hadits yang dha’if (lemah). Maka, dalil tersebut tidak dapat dijadikan sebagai dasar utama untuk menetapkan hukum aqiqah.

Rekomendasi Jasa Aqiqah Terbaik

Jika Anda berkeinginan untuk mengaqiqahkan putra putri Anda secara ekonomis, praktis dan syar’i Anda dapat menggunakan jasa Aqiqah Tangerang.

Kami menerima pemesanan untuk acara aqiqah Anda dengan berbagai paket pilihan. Untuk pemesanan dan informasi harga, silakan hubungi customer service kami di:

CS Aqiqah Tangerang:  081380087643

Your Thoughts