Ketentuan Qurban dan Aqiqah dalam Islam: Perbedaan & Persamaan

By:
Categories: Seputar Aqiqah
No Comments

Ketentuan qurban dan aqiqah dalam Islam sudah diatur di dalam syariat dengan jelas. Ketentuan tersebut sudah disebutkan di dalam Al – Qur’an dan hadits (dalil naqli). Ketentuan qurban dan aqiqah dalam Islam memiliki perbedaan, salah satu contohnya yaitu jumlah hewan yang disembelih. Perbedaan lainnya terletak pada niat dan do’a di dalam qurban dan aqiqah. Akan tetapi, qurban dan aqiqah memiliki persamaan pada tata cara penyembelihan hewannya.

Akan lebih baik jika setiap umat muslim mengetahui ketentuan qurban dan aqiqah dalam Islam, sebab baik ibadah qurban maupun aqiqah telah diatur di dalam dalil naqli yang ada. Adapun dalil yang menganjurkan untuk menunaikan ibadah qurban terdapat di dalam Al – Qur’an surat Al – Kautsar: 1 – 2.

Sedangkan ibadah aqiqah memiliki hikmah sebagai ibadah berhukum sunnah muakkad  yang berlandaskan pada hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hikmah tersebut akan terasa bagi orang tua, anak dan masyarakat sekitar. Dengan demikian, banyak pihak bisa mengambil makna aqiqah dan qurban yang telah dilaksanakan.

Melihat pentingnya informasi mengenai ketentuan qurban dan aqiqah ini, maka pada kesempatan kali ini Aqiqah Tangerang akan memaparkan secara lengkap mengenai ketentuan qurban dan aqiqah dalam Islam. Kami akan membahas ketentuan qurban dan aqiqah dari mulai ketentuan dasar, ketentuan penyembelihan hingga pembagian daging qurban dan aqiqah.

Ketentuan Qurban dan Aqiqah dalam Islam

Dalil mengenai Qurban

Ibadah qurban dan aqiqah memiliki kesamaan, namun juga terdapat perbedaannya. Salah satu pembedanya ialah tujuan dari pelaksanaan kedua ibadah tersebut, qurban merupakan ibadah yang bertujuan untuk melatih keikhlasan seorang muslim dan sebagai bentuk upaya taqarrub (mendekatkan diri pada Allah Ta’ala). Berqurban sendiri menjadi salah satu ibadah yang dianjurkan oleh Allah di dalam firman-Nya berikut ini:

إِنَّآ أَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ ﴿الكوثر

Terjemahannya:

“Sungguh, Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak. Maka Laksanakanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah (sebagai Ibadan dan mendekatkan diri kepada Allah”.

(QS. Al-Kautsar: 1-2)

Selain di dalam firman tersebut, terdapat sebuah hadits Rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam yang menegaskankan anjuran berqurban. Adapun hadits tersebut adalah sebagai berikut:

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ اَنَّ رَسُوْلُ اللهِ ص.م. قَالَ: مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مُصّلاَّنَا ـ رواه احمد و ابن ماجة

Terjemahannya:

“Siapa yang mendapati dirinya dalam keadaan lapang, lalu ia tidak berqurban, maka janganlah ia mendekati tempat sholat Id kami”.

(HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Dalil mengenai Aqiqah

Anjuran mengenai aqiqah memang tidak dijelaskan secara langsung di dalam Al – Qur’an. Akan tetapi jumhur ulama menilai hukum aqiqah adalah sebagai ibadah sunnah muakkad, artinya ibadah aqiqah merupakan salah satu ibadah yang dianjurkan untuk dilakukan.

Adapun dalil yang menjelaskan mengenai aqiqah terdapat di dalam sebuah hadits berikut ini:

كُلُّ غُلاَمٍ رَهِيْـنَـةٌ بِـعَـقِـيْقَتِهِ تُذْبَحُ عَـنْـهُ يَـوْمَ سَابِـعِـهِ وَيُـسَـمَّى فِيْـهِ وَيُـحْلَـقُ رَأْسُـهُ

Terjemahannya:

“Setiap anak yang lahir tergadai dengan aqiqahnya, yang disembelih pada hari ketujuh, dan pada hari itu ia diberi nama dan digundul (rambutnya)”.

(HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, an-Nasa’i, Hakim, dan Baihaqi. Hadits ini dishahihkan oleh al-Albani)

Simpulan

Dari beberapa dalil di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa aqiqah dan qurban adalah ibadah yang dianjurkan oleh syariat untuk ditunaikan.

Baca juga artikel lengkap kami tentang Sejarah Singkat Aqiqah dalam Islam – Zaman Jahiliyah & Zaman Rasulullah

Ketentuan Hewan Qurban dan Aqiqah

Perbedaan

Qurban

Aqiqah

Jumlah BinatangCukup satu ekor,

Satu ekor sapi boleh untuk 7 orang

Ana perempuan 1 ekor kambing dan anak laki – laki 2 ekor kambing

Selain kambing, jumlahnya adalah 1 ekor

PelaksanaanDilaksanakan setiap tahun, pada tanggal 10 – 13 dzulhijjahDilaksanakan satu kali seumur hidup, pada hari ke – 7 atau ke – 14 dan atau ke – 21 setelah kelahiran anak
Pembagian DagingLebih diutamakan dibagikan masih daging mentah / belum dimasakDaging diberikan setelah matang

Tabel di atas adalah ringkasan mengenai perbedaan di dalam ketentuan qurban dan aqiqah. Sekilas, qurban dan aqiqah memiliki kemiripan meskipun sedikit berbeda.

Ketentuan mengenai Hewan Qurban

Di dalam kitab Bidaayatul Mujtahid, Al-Mugni , dan Al-Muhalla dijelaskan beberapa syarat dalam pelaksanaan qurban. Pada saat melaksanakn qurban, hewan yang akan diqurbankan harus memenuhi beberapa syarat berikut:

  • Sesuai syariat, hewan qurban berupa domba harus berusia minimal jaza’ah, artinya harus berusia 0,5 tahun. Untuk hewan lain harus berusia minimal tsaniyyah, artinya berusia minimal 1 tahun penuh.
  • Syariat menganjurkan hewan qurban harus berupa hewan ternak seperti sapi, kambing,unta, dan domba.
  • Status hewan qurban merupakan milik orang yang berqurban atau diizinkan baginya untuk berqurban dengan hewan yang akan diqurbankan tersebut. Tidak dibolehkan hewan qurban tersebut berasal dari hasil mencuri atau merampok, sebab hukumnya tidak sah. Hal ini berlaku juga untuk binatang qurban dari hasil perserikatan 2 orang atau lebih. Jika salah satu orang tersebut tidak memberikan izin atas hewan tersebut, maka tidak sah hewan tersebut untuk diqurbankan.
  • Hewan qurban terbebas dari cacat. Cacat yang dimaksudkan adalah seperti buta matanya, sakit, pincang, dan kurus.
  • Penyembelihan hewan qurban tersebut harus dilaksanakan pada waktu yang telah ditentukan, sesuai dengan syariat Islam. Jika hewan qurban tersebut disembelih sebelum atau sesudah waktu yang telah ditentukan maka penyembelihan tersebut tidak sah.

Ketentuan mengenai Binatang Aqiqah

Hewan yang digunakan untuk aqiqah tidak dibatasi jenis kelamin, baik itu kambing jantan atau betina. Perihal batas usia dan jenis hewannya, baik hewan untuk qurban ataupun aqiqah sama.

Di dalam sebuah hadits Rasulullah shallallu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa terdapat ketentuan jumlah di dalam pelaksanaan aqiqah, adapun haditsnya adalah sebagai berikut:

عن الغلام شاتان وعن الجارية شاة لايضركم أذكرانا كن أم إناثا

Terjemahannya:

“Untuk anak laki-laki dua kambing, dan untuk anak perempuan satu kambing, dan tidak memudharati kalian apakah kambing-kambing tersebut jantan atau betina”.

(HR. Ashhabus Sunan dan dishahihkan oleh al-Albani)

Pada umumnya, hewan yang digunakan untuk aqiqah adalah kambing. Beberapa madzhab membahas tentang boleh atau tidaknya menggunakanhewan selain kambing, kemudian ditemui perbedaan keputusan atasnya.

Ulama fiqih madzhab Maliki, menyatakan bahwa tidak diperbolehkan menyembelih hewan untuk aqiqah selain kambing. Hal ini didasari pada hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ada, dimana hewan yang disebutkan untuk aqiqah selalu kambing ataupun domba.

Hal tersebut berbeda dengan beberapa pendapat imam madzhab lain. Para ulama dari madzhab Hanafi, Hambali, dan Syafi’i, menyatakan bahwa dibolehkan menunaikan aqiqah dengan menggunakan hewan selain kambing. Hewan yang dibolehkan untuk aqiqah adalah seperti sapi atau unta. Namun tetap diutamakan hewan untuk aqiqah adalah hewan kambing.

Perbedaan Ketentuan Qurban dan Aqiqah

Berdasarkan bahasan sebelumnya, dapat dipahami ketentuan qurban dan aqiqah secara garis besar memiliki perbedaan. Berikut ini adalah beberapa perbedaannya:

Waktu Pelaksanaan

Mengenai waktu pelaksanaan aqiqah, apabila shohibul aqiqah mampu untuk menunaikan pada hari ke – 7 maka dianjurkan untuknya menunaikan pada hari itu. Jika, orang tua tidak mampu melaksankan pada hari itu maka dibolehkan untuk menunaikan aqiqah sebelum anak mencapai usia baligh.

Sedangkan, untuk waktu pelaksanaan qurban dilakukan pada bulan dzulhijjah sesuai dengan penanggalan Islam. Pelaksanaannya dimulai dari tanggal 10 (hari nahar), 11, 12, dan 13 (hari tasyrik). Ketentuan waktu pelaksanaan ini sesuai dengan syariat yang diajarkan oleh Islam.

Niat

Meskipun ditemui beberapa kemiripan di dalamnya, akan tetapi ibadah qurban dan aqiqah adalah dua jenis ibadah yang berbeda. Sehingga dalam niatnya pun akan berbeda.

Bagi orang yang akan melakukan qurban, dianjurkan atasnya untuk melafadzkan niat qurban pada saat akan menyembelih hewan. Pada saat melafadzkannya, orang tersebut harus menyebutkan dengan tujuan kepada siapa hewan tersebut hendak diqurbankan.

Hal ini juga dilakukan pada saat menunaikan aqiqah, diajurkan atas shohibul aqiqah untuk melafadzkan doa aqiqah dan dianjurkan baginya untuk menyebut nama anak yang hendak diaqiqahi tersebut.

Jenis Hewan yang Disembelih

Di dalam ketentuan qurban dan aqiqah, jenis hewanyang disembelih juga berbeda. Jumhur ulama sepakat bahwa hewan yang dipergunakan untuk qurban ialah berupa hewan ternak seperti kambing, sapi, domba, unta, dan sebagainya. Hal ini dibenarkan, selama sudah memenuhi syarat tertentu.

Berbeda dengan ibadah aqiqah, kita masih dapat menjumpai adanya ulama yang hanya memperbolehkan menyembelih hewan kambing pada saat aqiqah. Adapun ulama lain memperbolehkan mengganti kambing dengan hewan lainnya, seperti hewan sapi atau unta.

Baca juga artikel kami tentang Daftar Harga Kambing Aqiqah Tahun 2019

Persamaan Ketentuan Penyembelihan Hewan Qurban dan Aqiqah

Secara garis besar, di dalam pemenuhan syarat sahnya penyembelihan hewan qurban dan aqiqah adalah sama. Hal yang membedakan ialah niat yang dilafadzkan.

Hal yang perlu diperhatikan dan tidak boleh sampai terlupakan ialah bahwa hewan apapun yang disembelih, hendaknya seorang muslim menyebut nama Allah Ta’ala pada saat menyembelihnya. Hal ini tersantum di dalam Al – Qur’an surat Al-An’am: 121:

وَلا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَى أَوْلِيَائِهِمْ لِيُجَادِلُوكُمْ وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ

Terjemahannya:

“Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik”.

(QS. Al-An’am: 121)

Cara menyembelih hewan ada dua cara yakni narh dan dzabh. Narh adalah cara menyembelih hewan dengan cara melukai pangkal leher, leher yang dimaksdukan adalah pada bagian tempat kalung. Biasanya cara seperti ini diterapkan pada saat menyembelih unta. Hal ini juga diterangkan Allah Ta’ala di dalam firman – Nya berikut ini:

وَالْبُدْنَ جَعَلْنَاهَا لَكُم مِّن شَعَائِرِ الله لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ فَاذْكُرُوا اسْمَ الله عَلَيْهَا صَوَافَّ فَإِذَا وَجَبَتْ جُنُوبُهَا فَكُلُوا

Terjemahannya:

“Telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu bagian dari syiar Allah; kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah…”

(QS. Al-Haj: 36)

Adapun cara kedua adalah dzabh, cara ini biasa ditemui di Indonesia. Biasanya dilakukan pada saat akan menyembelih hewan ternak seperti kambing, sapi, dan sebagainya. Cara menyembil dengan dzabh adalah menyembelih di bagian ujung leher.

Adab dalam Menyembelih Binatang Qurban dan Aqiqah

Ketentuan Qurban Dan Aqiqah

Ketentuan Qurban Dan Aqiqah

Ketika melakukan proses penyembelihan pada hewan qurban ataupun aqiqah, hendaklah kita sebagai umat muslim memperhatikan adab -adab yang ada di dalamnya. Berikut ini adalah beberapa adab dalam menyembelih hewan qurban ataupun aqiqah:

  • Dianjurkan kepada shohibul qurban atau shohibul aqiqah untuk menyembelih hewan tersbut, jika dia mampu. Jika tidak mampu, maka dapat diwakilkan kepada orang lain akan tetapi shohibul qurban ataupun shohibul aqiqah hendaklah turut menyaksikan penyembelihan hewan tersebut.
  • Tidak diperbolehkan bagi penyembelih untuk mengasah pisau di hadapan hewan.
  • Dianjurkan untuk menggunakan pisau yang tajam.
  • Menghadapkan hewan qurban atau aqiqah  ke arah kiblat.
  • Hewan tersebut dibaringkan di atas lambung sebelah kiri.
  • leher hewan diinjak menggunakan kaki.
  • Melafadzkan basmallah, kemudian dilanjutkan dengan takbir.
  • Pada saat menyembelih hewan, melafdzkan niat untuk menyembelih hewan.Misalnya, menyebutkan tujuan penyembelihan hewan tersebut untuk qurban atau aqiqah.
  • Tidak diperkenankan untuk memperlama proses penyembilhan. Sebaliknya, sangat dianjurkan untuk menyembelih hewan tersebut dengan cepat, sehingga meringankan penderitaan hewan.
  • Perlu memastikan bagian kerongkongan, tenggorokan dan dua urat leher hewan qurban atau aqiqah sudah terputus.
  • Tidak diperkenankan untuk mematahkan leher hewan sebelum memastikan bahwa hewan qurban atau aqiqah tersebut sudah benar – benar mati.
  • Beberapa ulama mengajurkan untuk membiarkan kaki kanan hewan qurban atau aqiqah tersebut tetap bergerak., tujuannya agar hewan lebih cepat meregang nyawa.

Point – point di atas adalah beberapa adab dan tata cara dalam pelaksanaan aqiqah yang perlu diperhatikan dalam menyembelih hewan qurban ataupun aqiqah. 

Ketentuan Pembagian Daging Qurban dan Aqiqah

Islam merupakan agama rahmatan lil ‘alamin, maka tidak heran jika Islam memberikan pedoman kehidupan secara mendetail kepada setiap manusia. Pedoman tersebut meliputi segala jenis aspek kehidupan, termasuk dalam hal ketentuan pembagian daging qurban dan aqiqah.

Para ulama memiliki perbedaan pendapat mengenai perkara ini. Sebagian ulama berpandangan bahwa di dalam pembagian daging aqiqah sama dengan pembagian daging qurban. Hal ini didasari atas kemiripan yang ditemui dalam syarat sahnya dalam memilih binatang yang disembelih kedua ibadah tersebut. Sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa di dalam pembagian daging qurban dan aqiqah itu berbeda.

Di dalam kitab Al – Mughni dijelaskan bahwa pembagian daging aqiqah sebaiknya mengqiyaskan dengan pembagian daging qurban. Hal ini didasarkan pada ketentuan mengenai hewan aqiqah yang hukumnya adalah sembelihan yang dianjurkan, bukan wajib. Karena pada dasarnya standarnya sama dalam hal sifat, umur, syarat, dan kadar, maka sama pula dalam pembagiannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda di dalam hadits berikut ini:

أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – أَمَرَهُ أَنْ يَقُومَ عَلَى بُدْنِهِ ، وَأَنْ يَقْسِمَ بُدْنَهُ كُلَّهَا ، لُحُومَهَا وَجُلُودَهَا وَجِلاَلَهَا ] فِى الْمَسَاكِينِ[  ، وَلاَ يُعْطِىَ فِى جِزَارَتِهَا شَيْئًا

Terjemahannya:

“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mengurusi unta-unta hadyu. Beliau memerintah untuk membagi semua daging qurbannya, kulit, dan jilalnya (kulit yang diletakkan di bagian punggung unta) untuk orang-orang miskin. Dan beliau tidak memperbolehkan memberikan bagian apapun dari qurban itu untuk tukang jagal (sebagai upah)”.

(HR. Bukhari no. 1717 dan Muslim no. 1317)

Di dalam riwayat lain, disebutkan bahwa baik daging qurban ataupun aqiqah dapat dibagikan sesuai dengan keinginan shohibul qurban ataupun shohibul aqiqah. Daging tersebut boleh dibagikan seluruhnya kepada kerabat dekat, saudara, teman, tetangga, ataupun orang lain yang dinilai yang membutuhkan. Bahkan dibolehkan atasnya untuk disisakan sebagian, dan kemudian dimiliki oleh shohibul qurban ataupun shohibul aqiqah.

Rekomendasi Paket Aqiqah Tangerang

Jika Anda berkeinginan untuk mengaqiqahkan putra putri Anda secara ekonomis, praktis dan syar’i Anda dapat menggunakan jasa Aqiqah Tangerang.

Kami menerima pemesanan untuk acara aqiqah Anda dengan berbagai paket pilihan. Untuk pemesanan dan informasi harga, silakan hubungi customer service kami di:

CS Aqiqah Tangerang:  081380087643

Pengunjung Juga Mencari:

Your Thoughts