Hukum Hewan Aqiqah selain Kambing Menurut Ulama Islam

By:
Categories: Seputar Aqiqah
No Comments

Hukum hewan aqiqah selain kambing menurut ulama Islam terdapat perbedaan pendapat. Pada umumnya, hewan yang digunakan untuk ibadah aqiqah adalah kambing. Namun, banyak pertanyaan mengenai boleh atau tidaknya menggunakan hewan lain selain kambing misalnya menggunakan sapi atau unta. Atas perkara ini, ada ulama yang memperbolehkan untuk menggunakan hewan lain selain kambing untuk aqiqah ada juga yang tidak memperbolehkannya.

Mengenai hukum hewan aqiqah selain kambing menurut ulama Islam ini menjadi topik bahasan yang cukup menarik untuk dikaji. Oleh karena itu pada kesempatan kali ini kami akan membahas tentang hukum hewan selain kambing tersebut.

Jumlah Hewan Aqiqah

Berdasarkan pendapat jumhur ulama, jumlah hewan yang digunakan untuk aqiqah tergantung pada jenis kelamin anak yang akan diaqiqahi. Untuk anak laki – laki jumlah hewan yang disembelih adalah 2 ekor, sedangkan untuk perempuan adalah 1 ekor.

Harga Kambing Aqiqah

Harga Kambing Aqiqah

Namun demikian masih ada perbedaan pendapat antara ulama mengenai jumlah ini. Berikut ini adalah dalil mengenai jumlah hewan untuk aqiqah:

Dalil Aqiqah 2 Ekor Kambing untuk anak Laki-Laki

عَنْ أُمِّ كُرْزٍ الْكَعْبِيَّةِ قَالَتْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « عَنِ الْغُلاَمِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ وَعَنِ الْجَارِيَةِ شَاةٌ ». قَالَ أَبُو دَاوُدَ سَمِعْتُ أَحْمَدَ قَالَ مُكَافِئَتَانِ أَىْ مُسْتَوِيَتَانِ أَوْ مُقَارِبَتَانِ

Terjemahannya:

“Dari Ummu Kurz Al Ka’biyyah. Ia berkata, saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaih bersabda: ‘Untuk anak laki-laki dua kambing yang sama dan untuk anak perempuan satu kambing’. Abu Daud berkata, saya mendengar Ahmad berkata, ‘Mukafiatani yaitu yang sama atau yang saling berdekatan,”

(HR. Abu Daud no.2834 dan Ibnu Majah no.3162. Hadits ini dishahihkan oleh Al-Albani)

Selanjutnya, terdapat dalil aqiqah yang berasal dari Aisyah radhiyallahu ‘anha. Adapun dalilnya adalah sebagai berikut:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَمَرَهُمْ عَنِ الْغُلاَمِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ وَعَنِ الْجَارِيَةِ شَاةٌ

Terjemahannya:

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi memerintahkan mereka untuk anak laki-laki aqiqah dengan 2 ekor kambing dan anak perempuan 1 ekor kambing.”

(HR. Tirmidzi no. 1513.)

Tirmidzi menyatakan bahwa hadits tersebut adalah hadits hasan shahih. Selain itu, hadits haddits riwayat Tirmidzi ini juga dishahihkan oleh imam Al – Albani.

Dalil Aqiqah 1 Ekor Kambing untuk Anak Laki-Laki

Di dalam sebuah riwayat, dijelaskan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menunaikan aqiqah untuk cucunya yaitu Hasan dan Husain dengan menyembelih kambing. Adapun jumlah kambing yang disembelih untuk mengaqiqahi Hasan dan Husain dijelaskan di dalam hadits berikut ini:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَقَّ عَنِ الْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ كَبْشًا كَبْشًا.

Terjemahannya:

“Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: ‘Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam pernah mengaqiqahi Al Hasan dan Al Husain, masing-masing satu ekor domba.”

(HR. Abu Daud no.2841.)

Hadits diatas dishahihkan oleh imam Al – Albani, akan tetapi hadits yang menyebutkan bahwa aqiqah dengan 2 ekor kambing untuk anak laki-laki dianggap lebih shahih daripada hadits ini.

Pendapat Terkuat Mengenai Jumlah Kambing Aqiqah

Mayoritas ulama berpendapat bahwa 2 ekor untuk anak laki – laki dan 1 ekor kambing untuk anak perempuan adalah lebih utama. Syaikh Muhammad bin Sholih Al’Utsaimin di dalam kitab Syarhul Mumth menjelaskan tentang perkara ini, adapun penjelasannya adalah sebagai berikut:

فإن لم يجد الإنسان ، إلا شاة واحدة أجزأت وحصل بها المقصود ، لكن إذا كان الله قد أغناه ، فالاثنتان أفضل

Terjemahannya:

“Jika seseorang tidak mendapati hewan aqiqah kecuali satu saja, maka maksud aqiqah tetap terwujud. Akan tetapi, jika Allah memberinya kecukupan harta, maka aqiqah dengan dua ekor kambing (untuk anak laki-laki) lebih utama,”.

(Syarhul Mumthi’, 7/492)

Berdasarkan pernyataan tersebut, maka dianjurkan bagi orang yang mampu untuk menyembelih 2 ekor kambing untuk anak laki-laki dan 1 ekor kambing untuk perempuan. Sebaliknya, jika dirasa tidak mampu maka dibolehkan untuknya mengaqiqahi anak lelaki dengan satu ekor kambing saja. Hal ini dinilai sah.

Hewan Aqiqah selain Kambing

Ketentuan Qurban Dan Aqiqah

Ketentuan Qurban Dan Aqiqah

Setelah membahas tentang jumlah hewan untuk aqiqah, maka ada baiknya kita mengulas lebih jauh mengenai boleh atau tidaknya hewan aqiqah selain kambing.

Di dalam kitab Kifayatul Akhyar dijelaskan bahasan mengenai dibolehkan atau tidaknya hewan aqiqah selain kambing. Kitab ini menjelaskan bahwa menurut pendapat yang paling shahih (al – ashshah), aqiqah dilakukan dengan unta gemuk (al – badanah) atau sapi itu lebih utama jika ibandingkan dengan kambing (al – ghanam).

Namun, jumhur ulama dengan berkiblat pada hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, menganggap bahwa aqiqah dengan kambing lebih utama.

وَالْأَصَحُّ أَنَّ الْبَدَنَةَ وَالْبَقَرَةَ أَفْضَلُ مِنَ الْغَنَمِ وَقِيلَ بَلِ الْغَنَمُ أَفْضَلُ أَعْنِي شَاتَيْنِ فِي الْغُلَامِ وَشَاةً فِي الْجَارِيَةِ لِظَاهِرِ السُّنَّةِ

Terjemahannya:

“Menurut pendapat yang paling shahih, aqiqah dilakukan dengan unta gemuk atau sapi lebih utama dibandingkan kambing. Namun pendapat lain mengungkapkan bahwa aqiqah dengan kambing hukumnya lebih utama; yang saya maksudkan adalah dengan 2 ekor kambing untuk anak laki-laki dan 1 ekor kambing untuk anak perempuan, karena itu sesuai dengan bunyi Sunnah,”

(Kifayatul Akhyar hal. 535)

Akan tetapi, masih ditemui beberapa perbedaan pendapat ulama mengenai hewan aqiqah selain kambing. Berikut ini adalah pendapat dari para ulama:

Tidak Membolehkan Hewan Aqiqah selain Kambing

Para ulama dari madzhab Al – Malikiyah dan madzhab Dzahiri (diwakili oleh Ibnu Hazm) mengungkapkan hukum tentang mengganti hewan aqiqah dengan hewan selain kambing hukumnya adalah tidak boleh. Pernyataan ini mengacu pada ijtihad Aisyah radhiyallahu ‘anha.

Ulama yang menganut madzhab Al – Malikiyah, sebagian besar tidak memperbolehkan untuk mengganti kambing sebagai hewan aqiqah. Ibnu Hazm mengatakan bahwa aqiqah dengan hewan selain kambing adalah tidak sah.

Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa aqiqah dengan unta, sapi, dan hewan lainnya tidak dibolehkan untuk ditunaikan. Menurut Ibnu Hazm, Ibnu Qayyim pernah mengisahkan bahwa pernah ada sahabat rasul yang melaksanakan aqiqah dengan hewan selain kambing yaitu menggunakan unta. Namun pernyataan ini diingkari oleh Rasulullah shallallahu ‘alahi wassalam.

Adapun penjelasannya terdapat dalam hadits berikut:

قِيْلَ لِعَائِشَةَ : ياَ أُمَّ المـُؤْمِنِين عَقَّى عَلَيْهِ أَوْ قَالَ عَنْهُ جُزُورًا؟ فَقَالَتْ : مَعَاذَ اللهِ ، وَلَكْن مَا قَالَ رَسُولُ اللهِ شَاتاَنِ مُكاَفِأَتَانِ

Terjemahannya:

“Dari Ibnu Abi Malikah, ia berkata: Telah lahir anak laki-laki untuk Abdurrahman bin Abi Bakar, maka dikatakannya kepada ‘Aisyah:’Wahai Ummul Mu’minin, adakah aqiqah atas bayi tersebut dengan 1 ekor unta?’. Maka ‘Aisyah menjawab: ‘Aku berlindung kepada Allah, tetapi seperti yang dikatakan oleh Rasulullah, dua ekor kambing yang sepadan.’”

(HR. Al-Baihaqi)

Terdapat riwayat lain yang juga menjelaskan tentang perkara tersebut, hadits menyebutkan:

قاَلَتْ اِمْرَأُةٌ عِنْدَ عَائِشَة لَوْ وَلَدَتْ اِمْرَأَة فُلاَن نَحَرْناَ عَنْهُ جُزُورًا؟ قَالَتْ عَائِشَة : لاَ وَلَكِن السُّنَّة عَنِ الغُلاَمِ شَاتَانِ وَعَنِ الجَارِيَةِ شَاةٌ

Terjemahannya:

“Seorang wanita berkata di hadapan ‘Aisyah: Seandainya seorang wanita melahirkan fulan kami menyembelih seekor unta. ‘Aisyah berkata: ‘Jangan, tetapi sesuai Sunnah yakni buat seorang anak laki-laki dua ekor kambing dan seekor kambing untuk anak perempuan.’”

(HR. Ishaq bin Rahawaih)

Membolehkan Hewan Aqiqah selain Kambing

Mengenai perkara dibolehkannya hewan aqiqah selain kambing, jumhur / mayoritas ulama memperbolehkannya. Para ulama yang memperbolehkannya mayoritas adalah penganut madzhab as – syafi’iyah, al – hanafiyah, dan al – hanabilah. Adapun ulama madzhab Al – Malikiyah sebagian besar juga memperbolehkannya.

Pada umumnya, para ulama tersebut sepakat bahwa hewan aqiqah selain kambing diperbolehkan dan dapat diganti dengan hewan lain seperti unta atau sapi. Dasar yang dipergunakan untuk memutuskan perkara tersebut adalah karena di dalam pelaksanaan qurban pun hewan – hewan tersebut biasa digunakan.

Dalam perkara ini, Ibnul Mundzir juga menyatakan bahwa diperbolehkannya aqiqah menggunakan hewan selain kambing. Adapun dasarnya adalah hadits berikut ini:

مَعَ الْغُلَامِ عَقِيقَةٌ فَأَهْرِيقُوا عَنْهُ دَمًا وَأَمِيطُوا عَنْهُ الْأَذَى

Terjemahannya:

“Bersama bayi itu ada aqiqahnya, maka sembelihlah hewan, dan hilangkanlah gangguan darinya.”

(HR. Bukhari)

Dalil di atas tidak secara langsung menjelaskan tentang jenis hewan aqiqah adalah kambing. Akan tetapi, hewan sembelihan secara umum. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa sah hukum jika melaksanakan aqiqah menggunakan hewan selain kambing.

Ibnu Mundzir mengisahkan bahwa Anas bin Malik pernah menunaikan aqiqah untuk anaknya kemudian menyembelih unta untuk aqiqah tersebut. Hal tersebut juga dilaksanakan oleh para sahabat nabi yang lain contohnya seperti Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu. Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu pernah menunaikan ibadah aqiqah dengan menyembelih unta dan memberikan daging aqiqah tersebut untuk masyarakat Bashrah.

Hukum Aqiqah dengan Sapi atau Unta

Berdasarkan pendapat – pendapat tersebut, maka dapat kita tarik kesimpulan bahwa jumhur ulama memperbolehkan menggunakan hewan aqiqah selain hewan kambing. Adapun contoh hewan yang dapat menggantikan hewan kambing tersebut adalah sapi atau unta.

Akan tetapi, timbul pertanyaan baru yang menarik untuk dibahas yakni apakah kemudian ketika mengaqiqahi anak dengan hewan sapi maka dapat digunakan untuk 7 orang anak layaknya ketika qurban?

Pada dasarnya tidak ada hadits yang secara jelas menegaskan dibolehkan atau tidaknya ketika menjadikan 1 ekor sapi atau unta untuk 7 orang seperti halnya ketika berqurban. Akan tetapi para ulama sejak dulu sudah membahas pertanyaan ini. Jumhur ulama, menyatakan bahwa dibolehkannya persekutuan dalam menyembelih hewan qurban. Akan tetapi tetap ada syarat dan ketentuannya.

Pendapat Pengikut Madzhab Al – Hanafiyah

Mayoritas ulama – ulama madzhab Al – Hanafiyah memperbolehkan untuk menyembelih 1 ekor sapi ataupun unta untuk beberapa niat tertentu. Dengan catatan bahwa niat tersebut ditujukan untuk taqarrub (mendekatkan diri kepada Allah).

Hal tersebut merupakan pendapat yang datang dari Abu Hanifah dan 2 murid beliau, yaitu Muhammad dan Abu Yusuf.

Penyembelihan sapi atau unta yang ditujukan untuk taqarrub (mendekatkan diri kepada Allah) misalnya adalah dengan menunaikan qurban, aqiqah, membayar dam tamattu’, membayar dam qiran, kaffarah sumpah, dan hal lain yang serupa.

Meskipun Abu Hanifah memperbolehkan hal tersebut, akan tetapi beliau menjatuhi perkara tersebut dengan hukum makruh. Apabila ada 7 orang yang mempunyai niatan yang sama, misalnya aqiqah atau qurban, maka beliau lebih menyukai hal tersebut.

Pendapat Madzhab Asy – Syafi’iyah dan Al – Hanabilah

Di sisi lain, para ulama penganut madzhab Syafi’iyah dan Hanabilah, berpendapat yang sebaliknya. Dari pandangan ulama dua madzhab tersebut, tidak diharuskan menyamakan niat menyembelih sapi ataupun unta. Diperbolehkan untuk masing – masing orang, seperti 7 orang dengan niat yang berbeda, sebagian darinya  ingin taqarrub dan sebagian lagi tidak begitu.

Misalnya, dari 7 orang tersebut ada yang memiliki niat menyembelih sapi atau unta karena diperuntukkan menunaikan aqiqah, qurban, dan kaffarat. Sebagian lainnyas sekedar ingin makan – makan bersama keluarga, atau bahkan sekedar ingin menjual daging sapi tersebut. Semasa semua orang tersebut bersekutu dan kemudian menyembelih seekor hewan berupa sapi atau unta, maka hukumnya adalah sah.

Aqiqah dapat ditunaikan dengan menyembelih 1 ekor sapi atau 1 ekor unta sah dilakukan dengan cara patungan atau dengan cara membelinya secara bersama. Bahkan, jika pada saat menunaikan aqiqah tersebut, ada 3 orang yang berniat untuk menunaikan aqiqah sedang sisanya berniat untuk qurban atau sedekah, maka hukumnya tetap sah dan dibolehkan.

Dasar yang digunakan atas perkara tersebut diperoleh dari penjelasan yang terdapat di dalam Majmu’ Syarhul Muhadzdzab. Adapun isi penjelasan di dalam kitab tersebut adalah sebagai berikut:

لَوْ ذَبَحَ بَقَرَةً أَوْ بَدَنَةً عَنْ سَبْعَةِ أَوْلَادٍ أَوْ اشْتَرَكَ فِيهَا جَمَاعَةٌ جَازَ سَوَاءٌ أَرَادُوا كُلُّهُمْ الْعَقِيقَةَ أَوْ بَعْضُهُمْ الْعَقِيقَةَ وَبَعْضُهُمْ اللَّحْمَ كَمَا سَبَقَ فِي الْاُضْحِيَّةِ

Terjemahannya:

“Apabila seseorang menyembelih sapi atau unta gemuk untuk 7 anak atau adanya isytirak (keterlibatan) sekelompok orang dalam hal unta atau sapi tersebut maka boleh, baik semua ataupun sebagian dari mereka berniat untuk aqiqah sementara sebagian berniat untuk mengambil dagingnya untuk pesta.”

(Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab jus VIII hal. 409)

Baca juga artikel kami berikut ini: Dalil mengenai Hukum dan Keutamaan Aqiqah

Rekomendasi Paket Aqiqah Tangerang

Jika Anda berkeinginan untuk mengaqiqahkan putra putri Anda secara ekonomis, praktis dan syar’i Anda dapat menggunakan jasa Aqiqah Tangerang.

Kami menerima pemesanan untuk acara aqiqah Anda dengan berbagai paket pilihan. Untuk pemesanan dan informasi harga, silakan hubungi customer service kami di:

CS Aqiqah Tangerang:  081380087643

Pengunjung Juga Mencari:

Your Thoughts