Hukum Aqiqah Setelah Dewasa

By:
Categories: Seputar Aqiqah
No Comments

Hukum aqiqah setelah dewasa menjadi salah satu bahasan yang terus dipertanyakan oleh sebagian orang yang mengetahui bahwa pada saat bayi ia belum diaqiqahi oleh orang tuanya. Hal ini adalah sebuah hal yang wajar, mengingat hukum asal aqiqah adalah sunnah muakkad sehingga tidak ada kewajiban bagi orang tua yang memang belum mampu untuk mengaqiqahi anaknya. 

Beberapa orang mungkin baru mengetahui hal ini saat sudah baligh atau dewasa. Bahkan mungkin ada orang yang berwasiat untuk diaqiqahi sebelum dirinya meningggal. Hal ini kemudian menjadi pertanyaan yang terus dibahas oleh sebagian orang.

Untuk dapat menjawab pertanyaan tersebut ada baiknya untuk memahami mengenai hukum aqiqah setelah dewasa ini. Berikut ini adalah bahasan mengenai hukum aqiqah setelah dewasa yang kami akan bahas secara lengkap.

Dalil tentang Waktu Pelaksanaan Aqiqah

Hukum Aqiqah Setelah Dewasa

Jika dilihat dari hukumnya, ibadah aqiqah merupakan salah satu ibadah sunnah muakkad. Ibadah ini merupakan salah satu ibadah yang ditujukan untuk menunjukkan rasa syukur atas kelahiran bayi. Adapun tentang waktu pelaksanaannya jelaskan di dalam sebuah sebuah hadits berikut:

كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّيكُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تَذْ بَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى

Terjemahannya:

“Setiap bayi tergadai dengan aqiqahnya, disembelih (kambing) untuknya pada hari ke tujuh, dicukur (rambutnya), dan diberi nama”.

(HR. at-Tirmidzi no. 1522, Abu Dawud no. 2838, Ibnu Majah no. 3165 dan lain-lain)

Hadits tersebut berasal dari sahabat Samurah bin Jundul radhiyallahu ‘anhu dishahihkan oleh para ulama seperti syeikh al – Albani, al – Hakim, adz – Dzahabi, dan Syeikh Abu Ishaq al-Huwaini.

Berdasarkan hadits tersebut, waktu yang paling utama untuk melaksanakan aqiqah adalah pada hari ke – 7 kelahiran bayi. Namun orang tua yang merasa belum mampu untuk melaksanakan aqiqah ini diperbolehkan untuk melaksanakan aqiqah setelah lewat dariharike – 7 kelahiran sang bayi.

Akan tetapi terdapat batasan waktu yang diberikan, yaitu sebelum anak tersebut dewasa atau tiba di masa balighnya. Lalu bagaimana jika orang tua masih belum dapat menunaikan ibadah aqiqah ini setelah batas waktu tersebut?

Baca juga artikel lengkap kami mengenai Dalil Lengkap Aqiqah: Hukum, Keutamaan & Waktu Aqiqah 2019

Hukum Aqiqah setelah Dewasa

Berdasarkan pendapat sebagian besar ulama penganut madzhab Syafi’iyah dan Hambali ibadah aqiqah tidak hanya dianjurkan saat anak masih kecil. Bahkan diperbolehkan untuk menunaikanaqiqah juga ketika sudah dewasa.

Pendapat ini didasari pada tidak adanya landasan hadits yang menjelaskan mengenai batas waktu dalam menunaikan kesunnahan aqiqah. Sehingga dapat disimpulkan bahwa selama anak belum diaqiqahi, maka hukum aqiqah setelah dewasa ataupun setelah dia tua hukumnya boleh.

Syaikh Wahbah Azzuhaili memberikan pernyataan atas perkara tersebut, adapun penjelasannya adalah sebagai berikut:

وصرح الشافعية والحنابلة : انه لو ذبح قبل السابع او بعده أجزأه

Terjemahannya:

“Ulama Syafi’iyah dan Hanabilah menegaskan: bahwa andaikan aqiqah dilakukan sebelum anak berumur tujuh hari atau setelahnya, maka aqiqah tersebut hukumnya tetap sah”

Jika didasari dengan hadits tersebut, maka hukum aqiqah setelah anak dewasa adalah boleh.

Baca juga artikel kami mengenai Doa Aqiqah Anak Laki Laki dan Perempuan

Hukum Aqiqah Diri Sendiri setelah Dewasa

Berdasarkan bahasan sebelumnya maka sudah dapat ditarik kesimpulanbahwa pada dasarnya menunaikan aqiqah setelah dewasa itu hukumnya diperbolehkan.

Namun muncul pertanyaan baru lalu siapakah yang dianjurkan untuk menjadi shohibul aqiqah tersebut? Bolehkah jika aqiqah itu dilakukan  oleh diri sendiri? Berikut ini adalah pembahasan mengenai hukum aqiqah diri sendiri:

Dibolehkannya Menunaikan Aqiqah Diri Sendiri setelah Dewasa

Berdasarkan sebuah sumber dijelaskan bahwa sebagian penganut dari madzhab Syafi’iyah, beranggapan bahwa aqiqah masih menjadi tanggung jawab orang tua hingga anak menginjak usia baligh.

Akan tetapi jika anak tersebut sudah dewasa, maka hukum aqiqah bagi orang tua pun sudah gugur.Jika anak yang sudah melampaui usia balighnya, maka ia dapat memilih untuk mengaqiqahi diri mereka sendiri.

Syeikh asy – Syarbini rahimallahu memberikan penjelasan mengenai melaksanakan aqiqah untuk diri sendiri saat sudah dewasa. Adapun penjelasannya adalahsebagai berikut:

“Apabila anak telah mencapai usia baligh, maka hendaknya anak mengaqiqahi diri mereka sendiri untuk mendapati hal yang telah luput”.

(kitab Mughnil Muhtaj, 4: 391)

Sumber lain juga menjelaskan bahwa sebagian ulama dari madzhab Hambali memperbolehkan aqiqah untuk diri sendiri, berikut adalah penjelasakannya:

واختار جماعة من الحنابلة : ان للشخص ان يعق عن نفسه استحبابا. ولا تختص العقيقة بالصغر فيعق الاب عن المولود ولو بعد بلوغه لانه لا أخر لوقتها

Terjemahannya:

“Sekelompok ulama Hanbali berpendapat bahwa disunnahkan bagi seseorang dalam menunaikan aqiqah untuk dirinya sendiri. Dan aqiqah tidak hanya khusus dilakukan ketika anak masih kecil saja, sehingga bapak tetap dianjurkan melakukan aqiqah meskipun anaknya telah dewasa. Hal ini karena waktu aqiqah sendiri adalah tidak terbatas”.

(lihat kitab al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu)

Selain itu, terdapat dalil lain yang memperkuat pendapat bahwa anak yang sudah dewasa dan mampu untuk mengaqiqahi dirinya sendiri maka dapat mengaqiqahi diri mereka sendiri. Berikut ini adalah haditsnya:

لو أعلم أنه لم يعق عني لعققت عن نفسي

Artinya:

“Seandainya aku tahu bahwa aku belum diaqiqahi, maka aku akan mengaqiqahi diriku sendiri”.

(HR. Ibnu Syaibah dalam Mushonnaf, 8:235-236.)

Sanad hadits tersebut dinyatakan shahih oleh syeikh al – Albani.

Pernyatan lain yaitu dari Al – Hasan al – Bashri juga menjelaskan adanya anjuran untuk mengaqiqahi diri sendiri. Namun Al – Hasan al – Bashri menyebutkan anjuran ini untuk laki – laki. Adapun pernyataannya adalah sebagai berikut:

إذا لم يعق عنك ، فعق عن نفسك و إن كنت رجلا

Terjemahannya:

“Jika engkau belum diaqiqahi, maka aqiqahilah dirimu sendiri jika engkau seorang laki-laki”.

(disebutkan dalam kitab al-Muhalla, 8:322.

Menurut syeikh al – Albani di dalam kitab as-Silsilah ash-Shahihah no. 2726, nukilan tersebut sanadnya adalah hasan. Berdasarkan beberapa paparan dalil tersebut, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa hukum aqiqah setelah dewasa adalah boleh.

Tidak Dibolehkannya Menunaikan Aqiqah Diri Sendiri setelah Dewasa

Ada ulama  yang berpendapat bahwa hukum aqiqah diri sendiri setelah dewasa hukumnya adalah tidak boleh. Imam Malik rahimahullah memberikan pendapatnya sebagai berikut:

“Tidak perlu mengaqiqahi diri sendiri karena hadits yang membicarakannya (aqiqah setelah dewasa) adalah dhoif. Lihatlah saja para sahabat Rasulullah ﷺ yang belum diaqiqahi di masa Jahiliyah. Apakah mereka mengaqiqahi diri mereka sendiri ketika telah masuk Islam? Jelaslah itu suatu kebathilan”.

Pendapat tersebut dinukil dari kitab al – Mudawanah al – Kubro oleh Imam Malik dengan riwayat Sahnun dari Ibnu Qosim.

Berdasarakan penjelasan tersebut, dapat dilihat bahwa Imam Malik menekankan hukum aqiqah setelah dewasa oleh diri sendiri itu tidak perlu dilakukan. Apalagi tidak ditemuinya  hadits yang membicarakan hal tersebut. Sehingga, disimpulkan bahwa hukum aqiqah setelah dewasa sudah gugur.

Hukum Aqiqah Setelah Menikah

Berdasarkan paparan sebelumnya dapat dilihat bahwa terdapat dua pendapat yaitu boleh melakukan aqiqah setelah dewasa dan tidak dibolehkannya melakukan aqiqah setelah dewasa. Kemudian muncul bahasan baru mengenai menunaikan aqiqah setelah menikah.

Pada saat seorang wanita menikah, maka suami sudah mengambil atanggung jawab orang tuanya atas sang istri tersebut. Lalu jika sang istri ternyata belum pernah diaqiqah sebelumnya, apakah diperbolehkan bagi sang suami untuk menunaikan aqiqah untuk istrinya?

Untuk mengetahui hukum perkara tersebut, kita perlu melihat hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَقَّ عَنِ الْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ كَبْشًا كَبْشًا

Terjemahannya:

“Rasulullah ﷺ pernah mengaqiqahi al-Hasan dan al-Husain, masing-masing satu ekor gibas (domba)”.

(HR. Abu Daud no. 2841.)

Berdasarkan hadits tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa diperbolehkannya untuk menunaikan aqiqah dengan satu ekor kambing untuk anak kembar. Namun terdapat riwayat lain mengatakan dengan dua kambing, itu yang lebih utama.

Dari haditstersebut, ulama madzhab Syafi’iyah yakni asy – Syarbini berkata:

“Aku jawab bahwa yang dimaksud dengan aqiqah Nasi ﷺ pada keduanya (Hasan dan Husein) adalah perintah beliau kepada kedua orang tuanya, atau boleh jadi beliau yang memberikan hewan yang akan dijadikan aqiqaih. Atau barangkali lagi Hasan dan Husein menjadi tanggungan nafkah Nabi ﷺ karena kedua orang tua mereka adalah orang yang kurang mampu. Namun jika aqiqah itu diambil dari harta anak, maka itu tidak diperbolehkan bagi wali (orang tua) untuk melakukannya. Karena aqiqah itu termasuk tabarru’ (pemberian cuma-cuma) dari orang tua sehingga tidak boleh hewan aqiqah diambil dari harta anak”.

(lihat kitab al- Mughnil Muhtaj, 4:391).

Berdasarkan hadits tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memang bukanlah orang tua kandung dari Hasan maupun Husein. Namun beliau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap menjalankan aqiqah untuk mereka berdua, selaku kakeknya.

Berdasarkan paparan di atas maka  jumhur ulama sepakat bahwa hukum suami mengaqiqahi istri diperbolehkan. Namun harus memenuhi syarat yakni semasa kecil istri belum diaqiqah serta mendapatkan izin dari orang tua istri.

Baca juga artikel kami mengenai Jasa Aqiqah Di Tangerang Selatan

Rekomendasi Paket Aqiqah Tangerang

Jika Anda berkeinginan untuk mengaqiqahkan putra putri Anda secara ekonomis, praktis dan syar’i Anda dapat menggunakan jasa Aqiqah Tangerang.

Kami menerima pemesanan untuk acara aqiqah Anda dengan berbagai paket pilihan. Untuk pemesanan dan informasi harga, silakan hubungi customer service kami di:

Customer Service Aqiqah Tangerang:  081380087643

Your Thoughts