Dalil Lengkap Aqiqah: Hukum, Keutamaan & Waktu Aqiqah 2019

By:
Categories: Seputar Aqiqah
No Comments

Dalil lengkap aqiqah yang digunakan sebagai dasar hukum aqiqah tercantum di dalam Al Qur’an (firman allah tentang aqiqah) maupun di dalam hadits. Dalam menentukan dasar hukum aqiqah berdasarkan hadits, lebih diutamakan hadits yang shahih.

Di dalam syarah hadits mengenai aqiqah, ulama – ulama telah memberikan penjelasan mengenai dalil lengkap aqiqah dan beberapa perkara di dalamnya. Salah satu perkara yang dibahas ialah hukum penentuan waktu pelaksanaan aqiqah yang jatuh pada hari ke – 7 setelah kelahiran sang bayi.

Selain itu, ulama juga telah memberikan penjelasan mengenai ketentuan dan tata cara aqiqah. Terdapat penjelasan pula mengenai pelaksanaan aqiqah setelah anak dewasa. Beberapa hal tersebut didasarkan pada dalil yang kuat, sehingga seorang muslim dapat memaknai dan mengambil hikmah/filosofi aqiqah dengan baik.

Dalil mengenai aqiqah menjadi pedoman bagi setiap umat muslim yang hendak menunaikan ibadah aqiqah. Pada kesempatan kali ini, kami akan menyampaikan ulasan mengenai dalil aqiqah yang digunakan sebagai dasar pelaksanaan aqiqah.

Dalil mengenai Hukum dan Keutamaan Aqiqah

Berikut ini adalah beberapa dalil aqiqah sesuai sunnah mengenai aqiqah:

Hadits Abu Dawud, Ibnu Majah, Tirmidzi, Nasa’i, & Ahmad

Hadits pertama yang menjelaskan tentang aqiqah adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, Ibnu Majah, Tirmidzi, Nasa’i, & Ahmad berikut ini:

Dalil Lengkap Aqiqah

Dalil Lengkap Aqiqah

Hadits Bukhari

Hadits lain yang menjelaskan tentang aqiqah adalah hadits yang diriwayatkan oleh Hadits Bukhari sebagai berikut:

عَنْ سَلْمَانَ بْنِ عَامِرٍ الضَّبِيّ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص يَقُوْلُ: مَعَ اْلغُلاَمِ عَقِيْقَةٌ فَاَهْرِيْقُوْا عَنْهُ دَمًا وَ اَمِيْطُوْا عَنْهُ اْلاَذَى

Terjemahannya:

“Dari Salman bin ‘Amir Ad-Dhabiy, dia berkata: Rasullullah bersabda: ‘Aqiqah dilaksanakan karena kelahiran bayi, maka sembelihlah hewan dan hilangkanlah semua gangguan darinya’.”

(HR. Bukhari no. 5472)

Hadits riwayat Bukhari tersebut menyebutkan alasan aqiqah untuk dapat ‘menghilangkan semua gangguan’. Arti kata ini kemudian dijelaskan dengan rinci di dalam kitab Fathul Bari 9/593 dan kitab Nailul Authar (5/35).

Secara garis besar, dua dalil tersebut menjelaskan mengenai tata cara pelaksanaan aqiqah dari menyembelih hewan aqiqah, memberikan nama pada bayi dan mencukur rambut anak.

Dalil mengenai Hukum Aqiqah

Terdapat beberapa perbedaan pandangan mengenai hukum aqiqah ini. Ada ulama yang berpendapat bahwa hukum aqiqah adalah wajib. Namun jumhur ulama menyepakati sepakat bahwa hukum aqiqah adalah sunnah muakkad sehingga sangat dianjurkan untuk dilaksanakan.

Dalil hukum yang menjadi dasar aqiqah sebgai ibadah wajib adalah adanya riwayat Salman dan Samurah. Ibnu Hazm menjelaskan bahwa pada hadits tersebut Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan aqiqah, tradisi tersebut menjadi sebuah kewajiban umat muslim sebagaimana telah dijelaskan.

Adapun dalil hukum aqiqah yang menjelaskan pelaksanaan aqiqah adalah sunnah adalah sebagai berikut:

مَنْ اَحَبَّ مِنْكُمْ اَنْ يُنْسَكَ عَنِ وَلَدِهِ فَلْيَفْعَلْ عَنِ الْغُلاَمِ شاَتَاَنِ مُكاَفأَ َتاَنِ وَعَنِ الْجاَ رِيَةِ شاَةٌ

Terjemahannya:

“Barangsiapa di antara kamu ingin beribadah tentang anaknya, hendaklah dilakukan aqiqah untuk anak laki-laki dua ekor kambing yang sama umurnya dan untuk anak perempuan seekor kambing.”

(HR. Abu Daud dan Nasa’i)

Di dalam hadits tersebut, terdapat keterangan secara tersirat bahwa aqiqah dapat dilakukan sebagai bentuk ibadah sehingga tidak ada kewajiban di dalamnya. Mayoritas ulama menjelaskan hukum aqiqah adalah sunnah yang dianjurkan. Jika seseorang memiliki kemampuan untuk menunaikan ibadah aqiqah ini, maka hendaklah menunaikan ibadah aqiqah tersebut.

Keutamaan Ibadah Aqiqah

Setiap ibadah pasti memiliki keutamaan masing – masing di sisi Allah Ta’ala, begitu pula dengan ibadah aqiqah. Adapun keutamaan ibadah aqiqah dalam Islam, di antaranya adalah sebagai berikut:

  • Upaya mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala

Pada dasarnya setiap ibadah ditujukan untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala, begitu pula dengan ibadah aqiqah. Pada ibadah aqiqah ini biasanya juga diiringi dengan pelaksanaan ibadah lain pembacaan Al – Qur’an 30 Juz maupun ibadah yang lain.

  • Mendapatkan pahala

Ibadah aqiqah merupakan salah satu ibadah yang sunnah. Ketika seorang muslim menegakkan sunnah Rasul, maka ia sedang menunjukkan rasa cintanya kepada agama Islam dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebab segala petunjuk beribadah berasal dari Al – Qur’an dan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

  • Mendoakan Bayi

Keutamaan lain dari melaksanakan ibadah aqiqah yang selanjutnya adalah mendoakan kebaikan untuk bayi yang baru lahir.

Orang tua dapat mendo’akan kebaikan untuk anak yang baru lahir, seperti mendo’akan agar sang bayi tumbuh menjadi muslim yang taat kepada Allah Ta’ala dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam serta dijauhkan dari godaan setan.

Itulah 3 keutamaan aqiqah bagi umat muslim yang menjalankannya. Selain 3 keutamaan tersebuh masih banyak manfaat lain yang dapat diperoleh dari melaksanakan ibadah aqiqah. Manfaat tersebut dapat diperoleh orang tua, bayi, atau masyarakat sekitarnya.

Hadits mengenai Tata Cara Aqiqah

Pada bahasan sebelumnya, telah di bahas mengenai hukum dan keutamaan melaksanakan ibadah aqiqah. Maka pada bahasan selanjutnya, kami akan membahas tentang waktu serta tata cara pelaksanaannya. Terdapat beberapa bahasan yang akan dibahas yakni melaksanakan aqiqah hari ke – 7, dalil aqiqah hari ke – 14 atau ke – 21, dalil aqiqah untuk diri sendiri, dalil aqiqah setelah dewasa dan dalil aqiqah bagi orang yang sudah meninggal.

Dalil Aqiqah Hari ke – 7

Melaksanakan aqiqah pada hari ke – 7 merupakan waktu yang paling disunnahkan. Hal ini sesuai dengan beberapa hadits yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam beberapa riwayat. Salah satu hadits yang menjelaskan hal ini adalah hadits riwayat Abu Dawud, Ibnu Majah, An-Nasa’i, dan Ahmad yang  dishahihkan oleh Syeikh Al Albani:

عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى »

Terjemahannya:

“Dari Samuroh bin Jundub, Rasulullah shallallahu ;alaihi wa sallam bersabda: ‘Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya, disembelihkan untuknya pada hari ke tujuh, digundul rambutnya dan diberi nama’.”

(HR. Abu Daud no. 2838, Ibnu Majah no. 3165, An-Nasa’i no. 4220, dan Ahmad 5/12. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani).

Berdasarkan pendapat Ibnu Qudamah, ulama – ulama menyepakati bahwa kambing aqiqah dianjurkan disembelih pada hari ke – 7 setelah kelahiran sang bayi. Beliau menjelaskan sebagai berikut:

قال أصحابنا : السنة أن تذبح يوم السابع… ولا نعلم خلافاً بين أهل العلم القائلين بمشروعيتها في استحباب ذبحها يوم السابع

Terjemahannya:

“Para ulama’ madzhab Hambali mengatakan, yang sesuai sunnah adalah hewan aqiqah disembelih di hari ke tujuh. Kami tidak mengetahui adanya perbedaan ulama yang menyatakan disyariatkannya aqiqah, bahwa hewan aqiqah dianjurkan untuk disembelih di hari ke tujuh.”

(Al-Mughni, 9/364)

Dari penjelasan Ibnu Qudamah di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa pelaksanaan aqiqah pada hari ke – 7 sudah disepakati oleh mayoritas ulama.

Dalil Aqiqah Hari ke – 14 atau ke – 21

Terdapat sebuah hadits yang membolehkan pelaksanaan aqiqah pada hari ke – 14 atau ke – 21. Hadits ini dinukil dari Aisyah radhiyallahu ‘anha dan Ishaq, ini merupakan satu pendapat dalam madzhab Syafi’i dan satu riwayat ibnu Habib dari Imam Malik.

Berikut ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Al – Baihaqy:

عن إسماعيل بن مسلم عن قتادة عن عبدالله ابن بريدة عن أبيه عن النبي e قال 🙁 العقيقة تذبح لسبع ولأربع عشرة ولإحدى وعشرين ) رواه البيهقي

Terjemahannya:

“Dari Abdullah bin Buraidah dari ayahnya dari Naby e bersabda ; aqiqah itu disembelih pada hari ketujuh atau ke – 14 atau ke – 21.”

(HR. Baihaqy)

Hadits lain yang juga membolehkan pelaksanaan aqiqah pada hari ke – 14 atau ke -21 diriwayatkan oleh Al Hakim dalam Mustadrok sebagai berikut:

عن عطاء عن أم كرز وأبي كرز قالا 🙁 نذرت امرأة من آل عبد الرحمن بن أبي بكر إن ولدت امرأة عبد الرحمن نحرت جزوراً . فقالت عائشة رضي الله عنها : لا بل السنة أفضل عن الغلام شاتان مكافئتان وعن الجارية شاة تقطع جُدولاً ولا يكسر لها عظم فيأكل ويطعم ويتصدق وليكن ذلك يوم السابع

Terjemahannya:

“Dari Atho’ dari Umm Kurz dan Aby Kurz keduanya berkata ; seorang perempuan dari keluarga Abdurrahman bin Abu bakr ra bernadzar bahwa jika istri Abdurrahman melahirkan ( dengan selamat ) ia akan menyambelih unta. Maka  Aisyah ra berkata ; bukan, tetapi sunnahnya yang afdhol untuk anak laki-laki adalah dua ekor kambing dan untuk anak perempuan seekor kambing, dipotong-potong namun tidak dipecahkan tulangnya,dimakan dan di sedekahkan, dan hendaknya dilakukan pada hari ketujuh, jika tidak bisa maka pada hari ke – 14 dan jika tidak bisa maka pada hari ke- 21.”

(HR. Al – Hakim, beliau berkata sanadnya shahih dan disepakati oleh Dzahaby)

Dalil Aqiqah setelah Dewasa

Terdapat perbedaan pendapat mengenai pelaksanaan aqiqah ketika sudah dewasa, di dalam kitab Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 30:279 dijelaskan pandangan – pandangan dari beberapa madzhab

Madzhab Malikiyah beranggapan bahwa aqiqah anak gugur jika sudah melewati batas 7 hari setelah kelahiran. Sedangkan madzhab Hambali, beranggapan bahwa aqiqah tetap dapat dilakukan meskipun telah melewati hari ke – 7 setelah kelahiran.

Adapun ulama – ulama Syafi’iyah beranggapan bahwa aqiqah menjadi tanggung jawab orang tua hingga anak mencapai usia baligh. Namun jika anak sudah dewasa, maka tanggungjawab orangtua atas aqiqah anak tersebut sudah gugur. Meskipun orang tua sudah tidak memiliki tanggungjawab untuk mengaqiqahi sang anak, namun anak tersebut dapat mengaqiqahi dirinya sendiri.

Pendapat Syaikh madzhab Syafi’iyah ini disanggah dengan salah satu penjelasan syeikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin rahimahullah berikut ini:

“Hukum aqiqah adalah sunnah muakkad. Aqiqah bagi anak laki-laki dengan dua ekor kambing, sedangkan bagi wanita dengan seekor kambing. Apabila mencukupkan diri dengan seekor kambing bagi anak laki-laki, itu juga diperbolehkan. Anjuran aqiqah ini menjadi tanggungjawab ayah. Apabila ketika waktu dianjurkannya aqiqah (yakni pada hari ke tujuh), orang tua dalam keadaan fakir/tidak mampu, maka ia tidak diperintahkan untuk aqiqah. Karena Allah Ta’ala berfirman yang artinya: “Bertakwalah kepada Allah semampu kalian”. (QS. At-Taghobun: 16). Namun apabila ketika waktu dianjurkannya aqiqah orang tua dalam keadaan berkecukupan, maka aqiqah masih tetap jadi perintah bagi ayah, bukan ibu dan bukan pula anaknya”.

(Liqo-at Al Bab Al Maftuh. Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin)

Berdasarkan dalil aqiqah tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa hukum aqiqah bagi orang tua atas anaknya telah gugur ketika anak telah baligh.

Dalil Aqiqah untuk Diri Sendiri

Sampai saat ini belum ada dalil khusus yang membahas mengenai aqiqah untuk diri sendiri. Masih berhubungan dengan pembahasan di atas, memang tidak ditemukan dalil aqiqah untuk diri sendiri.

Namun demikian, ada beberapa ulama yang menyebutkan mengenai aqiqah diri sendiri tersebut. Ulama yang menyebutkan tentang perkara ini adalah seperti Al – Hasan Al – Bashri dan Ibnu Sirin. Berikut ini penjelasan mengenai aqiqah diri sendiri oleh Al – Hasan Al – Bashri:

إذا لم يعق عنك ، فعق عن نفسك و إن كنت رجلا

Terjemahannya:

“Jika engkau belum diaqiqahi, maka aqiqahilah dirimu sendiri jika engkau seorang laki-laki”.

(Disebutkan Ibnu Hazm dalam kitab Al-Muhalla, 8:322)

Ibnu Sirin juga menjelaskan mengenai aqiqah diri sendiri, adapun penjelasannya adalah sebagai berikut:

لو أعلم أنه لم يعق عني لعققت عن نفسي

Terjemahannya:

“Seandainya aku tahu bahwa aku belum diaqiqahi, maka aku akan mengaqiqahi diriku sendiri”.

(HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Mushonnaf 8:235-236. Syaikh Al-Albani berpendapat bahwa sanad hadits ini shahih seperti yang dijelaskan dalam As-Silsilah Ash-Shahihah no. 2726)

Imam Nawawi, beranggapan bahwa dalil aqiqah untuk diri sendiri adalah dhaif (lemah). Hadits tersebut dinilai dhaif, karena para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang belum diaqiqahi pada jaman jahiliyah tidak mengaqiqahi diri mereka sendiri saat memeluk agama Islam.

Selain itu, pada dasarnya aqiqah merupakan salah satu tanggung jawab orang tua sehingga anak tidaklah harus mengaqiqahi diri mereka sendiri.

Dalil Aqiqah bagi Orang yang Sudah Meninggal

Bahasan selanjutnya yaitu mengaqiqahi orang yang sudah meninggal.  Untuk dapat membahas hal ini maka pertama – tama adalah membahas dalil aqiqah mengenai mengaqiqahi anak yang telah meninggal.

Berdasarkan jumhur ulama, aqiqah merupakan ibadah sunnah yang dianjurkan. Sehingga, aqiqah dapat dilakukan apabila seseorang memang mampu melakukannya. Jika kemudian seorang anak meninggal sebelum diaqiqahi, padahal orang tua mampu untuk mengaqiqahi maka tetap disyariatkan untuk mengaqiqahinya.

Namun apabila anak meninggal di dalam kandungan sebelum genap berusia 4 bulan, maka tidak disyariatkan untuk melakukan aqiqah. Hal ini sesuai dengan pernyataan Ibnu Utsaimin rahimahullahu sebagai berikut:

“Apabila janin itu keguguran setelah ditiupkan ruh, maka janin tersebut dimandikan, dikafani, disholati, dan dikubur di pemakaman kaum muslimin, serta diberi nama dan diaqiqahi. Karena ia (bayi tersebut) telah menjadi seorang manusia, maka berlaku pula baginya hukum orang dewasa”.

(Syarah al-Arba’in an-Nawawiyyah halaman 90, Ibnu Utsaimin)

Selanjutnya, jika yang meninggal adalah orang tua dan selama hidup belum pernah diaqiqahi. Hukum melaksanakan aqiqah untuk orang tua tersebut adalah boleh, namun jika orang tua tersebut memang memberikan wasiat untuk melaksanakan aqiqah.

Hal tersebut didasari pada sebuah hadits berikut ini:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أُمِّي افْتُلِتَتْ نَفْسُهَا وَأَظُنُّهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ فَهَلْ لَهَا أَجْرٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ

Terjemahannya:

“Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Ibuku meninggal dunia dengan mendadak, dan aku menduga seandainya dia sempat berbicara akan bersedekah. Apakah dia akan memperoleh pahala jika aku bersedekah untuknya (atas namanya)?. Beliau menjawab: ‘Ya, benar’.”

(HR. Bukhari no. 1299)

Ulama – ulama menafsirkan dari hadits – hadits tersebut bahwa aqiqah merupakan bentuk sedekah. Sehingga, apabila ada orang tua ataupun manusia lain yang belum pernah diaqiqahi kemudian ia meninggal dunia dan sempat meninggalkan wasiat untuk diaqiqaahi, maka diperbolehkan ahli warisnya untuk mengaqiqahinya.

Dalil mengenai Hewan Aqiqah dalam Islam

Hewan aqiqah selain kambing

Pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hewan yang disembelih adalah kambing, akan tetapi beberapa riwayat menceritakan bahwa ada sahabat nabi yang mengaqiqahi anaknya dengan unta dan memberikan dagingnya kepada masyarakat Basrah ialah Anas Ibnu Malik. 

Dalil mengenai Jumlah Kambing Aqiqah

Pada umumnya, masyarakat sudah mengetahui jumlah kambing yang digunakan untuk mengaqiqahi anak laki – laki dan perempuan berbeda. Jumlah kambing yang digunakan untuk mengaqiqahi anak laki – laki adalah 2 ekor, sedangkan untuk anak perempuan adalah 1 ekor.

Hal ini sudah dijelaskan di banyak riwayat, salah satu hadits yang beriwayatkan hal ini adalah sebagai berikut:

عن أم كرز قالت سمعت النبي صلى الله عليه وسلم يقول : عن الغلام شاتان وعن الجارية شاة لايضركم أذكرانا كن أم إناثا

Terjemahannya:

‘Dari Ummu Kurz ia berkata: Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Untuk seorang anak laki-laki adalah dua ekor kambing dan untuk anak perempuan adalah seekor kambing. Tidak mengapa bagi kalian apakah ia kambing jantan atau betina”.

(HR. Abu Dawud no. 2834-2835, Ahmad 6/422, at-Tirmidzi no. 1516, ‘Abdurrazzaq no. 7954. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Sunan Abi Dawud 2/195)

Tidak ada perbedaan pendapat antar ulama mengenai jumlah kambing aqiqah yang digunakan untuk mengaqiqahi anak laki-laki dan perempuan. Namun demikian, dalam sebuah riwayat dijelaskan bahwa Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengaqiqahi Hasan dan Husain (cucu kembar baginda Rasul) masing – masing 1 ekor untuk mereka. Adapun hadits yang meriwayatkannya adalah sebagai berikut:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَقَّ عَنِ الْحَسَنِ، وَالْحُسَيْنِ كَبْشًا كَبْشًا

Terjemahannya:

“Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengaqiqahi untuk Hasan dan Husain dengan masing-masing satu kambing”.

(Abu Dawud no. 2841).

Hadits tersebut memberikan penjelasan bahwa dibolehkannya mengaqiqahi anak kembar dengan 2 ekor kambing. Namun, hadits tersebut dinilai dhaif (lemah). Sehingga, diutamakan untuk mengaqiqahi anak lelaki dengan  2 ekor kambing dan 1 ekor kambing untuk anak perempuan.

Rekomendasi Paket Aqiqah Tangerang

Jika Anda berkeinginan untuk mengaqiqahkan putra putri Anda secara ekonomis, praktis dan syar’i Anda dapat menggunakan jasa Aqiqah Tangerang.

Kami menerima pemesanan untuk acara aqiqah Anda dengan berbagai paket pilihan. Untuk pemesanan dan informasi harga, silakan hubungi customer service kami di:

CS Aqiqah Tangerang:  081380087643

 

Pengunjung Juga Mencari:

Your Thoughts